<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Serba-Serbi Archives - istapuspit.com</title>
	<atom:link href="http://istapuspit.com/category/serba-serbi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://istapuspit.com/category/serba-serbi/</link>
	<description>more talk, activity, lifestyle, traveling, kulinery</description>
	<lastBuildDate>Wed, 03 Aug 2022 16:42:45 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.8.3</generator>
	<item>
		<title>Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites part 2</title>
		<link>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/</link>
					<comments>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[istapuspit]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2021 12:10:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[asites]]></category>
		<category><![CDATA[Efusi pleura]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pleuritis TB]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://istapuspit.com/?p=599</guid>

					<description><![CDATA[<p>Oke, kita lanjutkan perjalananku sebagai penyintas pleuritis TB di part 2 ini. Semoga kalian masih betah membacanya ya, heheheh. Yang belum baca part 1 bisa baca disini pengalaman pleuritis tb dengan efusi pleura dan asites. Tanggal 21 Oktober 2019 Hari ini aku ke RSUP lagi melalu jalur umum untuk berobat ke dokter penyakit dalam. Aku berobat kesana karena aku kembali demam dan aku berpikir apa ini gara-gara cairan di perutku kah ya. Aku kembali parno, karena hasil pemeriksaanku belum keluar. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hasilnya. Untuk pemeriksaan sputum/ dahak membutuhkan 2 hari, sedangkan pemeriksaan lain sekitar 7 hari kerja. Aku mengeluhkan ketakutanku tentang adanya cairan di perutku dan berkata pada dokter apa mungkin aku kembali terkena tipes. Karena bulan November aku di diagnosa tipes oleh dokter umum. Akhirnya atas keluhanku tersebut dokter memeriksaku dan memintaku untuk di periksa darah lengkap. Saat pemeriksaan keluar dokter mengatakan aku mengalami anemia. Aku masih kekeh apa karena tipes, akhirnya dokter menjelaskan kepadaku saat aku menunjukkan hasil tes widal di RS swasta waktu itu. Hasil menunjukkan 1/40, kata dokter jika benar positif tipes harusnya hasil tes widal setidaknya 1/300. Seketika aku terdiam dan menyadari bahwa dari awal aku memang tidak sakit tipes wkkwkwkwk. Tanggal 30 Oktober 2019 Hasil tes sudah ada di tangan, dan hari ini aku langsung menuju poli paru non infeksi untuk berkonsultasi terkait semua hasil pemeriksaan yang sudah keluar. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, untuk pemeriksaan sputum tidak didapatkan bakteri yang terkandung di dalam air liurku (negatif), kemudian untuk hasil cairan pleura menunjukkan cairan mengarah ke transudat. Bagi kalian yang penasaran tentang transudat bisa baca disini mengenal efusi pleura, cairan di pleura. Sedangkan untuk hasil ADA test, dokter mengatakan hasilku hanya naik 4 point dari batas normal. Dan sebenarnya untuk di tegakkan diagnosis TB hasil biasanya menunjukkan diatas 100. Aku juga mengeluhkan kepada dokter bahwa aku mengalami keringat malam yang berlebih sudah beberapa hari ini. Karena dokter masih agak meragukan dengan hasil pemeriksaan cairan pleuraku yang menunjukkan mengarah ke transudat, sehingga dokter menyarankanku untuk melakukan pemeriksaan ANA test (Antibodi Anti-Nuklear). Dokter ingin menyingkirkan kemungkinan cairan pleura dan asitesku berasal dari penyakit lain, yaitu SLE/ Lupus. Yang ingin tahu seputar lupus/ SLE bisa di cek disini lupus. Dokter menjelaskan secara singkat tentang ANA test. Ana test adalah pemeriksaan untuk mengetahui kadar aktivitas antibodi pada darah yang melawan tubuh (reaksi autoimun). Berikut ini link buat kalian yang penasaran terkait ANA test, pemeriksaan ANA test atau ANA test. Oh ya aku juga mengeluhkan dadaku berdebar kencang, dan dokter memberikanku resep untuk membantu menstabilkan debaran jantungku. Untuk pemeriksaan ini aku melalui jalur mandiri ya. Tanggal 1 November 2019 Hari ini aku ke lab swasta berbekal surat pengantar lab dari dokter paru di RSUP. Aku hari ini melakukan pemeriksaan ANA test dan tes urin. Tidak membutuhkan waktu lama pemeriksaan selesai. Hasil juga bisa diterima malamnya, tapi aku memutuskan untuk mengambilnya esok hari. Harga untuk pemeriksaan ANA test 720 ribu, sedangkan untuk pemeriksaan urine lengkap 67 ribu. Tanggal 5 November 2019 Hari ini aku kembali ke poli paru RSUP dengan membawa hasil pemeriksaan ANA test dan urine. Dokter membacakan hasilnya, dan hasil ANA test ku negatif, sedangkan untuk urinku mengandung darah dan lekosit. Kata dokter itu bisa normal, karena wanita kadang suka mengalami infeksi. Dari hasil tersebut dokter memutuskan untuk memberikan aku terapi OAT dengan pertimbangan nilai ADA test ku yang naik 4 point. Walaupun secara pasti harusnya diatas 100 baru dinyatakan TBC, tapi untuk mengantisipasi dokter akan memberikanku obat TBC selama 6 bulan, apalagi aku juga mengalami keringat yang berlebih saat malam hari. Di karenakan ini penyakit yang cukup mematikan jika tidak di obati, dokter akhirnya mempertimbangkan untuk pemberian terapi OAT (Obat Anti Tuberkulosis). Dokter menyarankanku untuk memakai BPJS saja, tapi karena waktu itu aku masih bingung agar aku bisa mendapatan rujukan ke RS tipe A (RSUP) bagaimana dan takut membuang waktu lebih lama, jadinya aku memutuskan memakai umum saja. Dokter mewanti-wanti kemungkinan mahalnya biaya obat, karena nanti akan mendapatkan sekitar 90 biji, sehari minum 3 biji. Jadi perhitungan sehari obatnya sekitar 21 ribuan. Kalo harus minum sebulan ya dikalikan saja, kira-kira sekitar 610 ribuan. Dan ada obat-obat pendamping untuk mengamankan fungsi hati/ liver. Obat lain yang di resepkan ada B6 dan curcuma. Aku setuju saja, pikirku agar cepat sembuh. Karena aku tau bahayanya sakit TBC jika tidak segera ditangani. Penjelasan dari dokter Akhirnya dokter menjelaskan lebih rinci. Dokter mengatakan penyakitku ini pleuritis TB, TB ekstra paru. Dimana bakteri menginfeksi selaput paru-paruku (pleura) sehingga menyebabkan adanya cairan pleura yang berlebihan. Tapi kemungkinan kecil aku untuk menginfeksi orang lain, karena bakteri tidak terkandung didalam air liurku. Dokter menjelaskan dalam masa pengobatan dengan OAT dibagi 2 fase. Fase intensif dan fase lanjutan. Fase intensif akan dilakukan selama 2 bulan pertama menggunakan obat 4FDC/ 4KDT dan diminum setiap hari, kemudian dilanjutkan fase lanjutan dimana nanti hanya mengkonsumsi 3 kali dalam seminggu dan hanya 2 obat saja. Untuk fase lanjutan, dokter dan aku sepakat meminum obat pada hari senin, rabu, jumat. Untuk obat 4FDC terdiri dari 4 komponen obat, rifamcipin 150 mg, isoniazid 75 mg, pyrazinamid 400 mg, ethambutol 275 mg. Ini komposisi dalam 1 tablet ya. Untuk pengobatan intensif setiap hari obat ini diminum 3 biji, 2 jam sebelum makan pagi. Untungnya ada obat yang menyediakan 4 komponen dalam 1 obat ni, kalo nggak kebayang dong banyaknya tuh obat yang harus di minum. Secara kebutuhan harian aja untuk rifamcipin 450 mg, isoniazid 225 mg, pyrazinamid 1200 mg, ethambutol 825 mg. FIX banget kalo kalian sedang pengobatan OAT jangan lupa banyak minum air putih ya! Minimal 2 liter harus tercapai! agar kerja ginjalnya nggak berat. Oh ya, ketentuan berapa biji obat perhari di tentukan dari BB ya, jadi semakin besar BB seseorang jumlah obatnya juga lebih banyak begitu pula sebaliknya. Kebetulan BB ku 41 kg, jadi aku konsumsi 3 biji OAT setiap harinya. Untuk jelasnya bisa baca seputar OAT disini ya OAT atau disini ni Obat anti tuberkulosis lengkap banget buat pengetahuan seputar OAT dari fungsi, efek samping sampai jumlah dosisnya. Lanjutan penjelasan dokter Dokter juga menjelaskan kemungkinan efek samping yang akan kualami saat meminum OAT, mulai dari mual ringan, kencing merah (untuk kencing merah tidak apa apa, karena ini pengaruh dari komponen obat rifampicin). Jika aku mengalami mata/ badan kuning, BAK bewarna teh, nyeri sendi dan bengkak, muntah berat maka aku harus segera kontrol kembali. Dokter juga menjelaskan nanti aku akan di ronsen toraks ulang sebulan setelah pengobatan intensif, akan dilakukan pemeriksaan sputum di akhir bulan ke 2 pengobatan. Dan di bulan ke 6 pengobatan akan di periksa sputum, ronsen toraks ulang dan usg abdomen (mengingat aku juga mengalami asites di perut). Dokter berkata jika ini memang bukan karena penyakit lupus, maka nanti hasil ronsen toraks setelah 1 bulan terapi OAT akan menunjukkan hasil yang baik. Dokter juga menekankan asites juga bisa hilang dan terserap tubuh jika pengobatan OAT tepat sasaran. Kemudian dokter memberikan aku kartu kuning, sebagai kartu kontrol untuk pengobatan TB. Kartu ini harus di bawa setiap kali berobat. Aku punya contoh fotokopiannya ni tapi tidak bewarna kuning. Sekedar informasi, kartu kuning yang asli sudah di tarik kembali sama RSUP nya saat pengobatan kita sudah selesai, dan memang kartunya bewarna kuning ya. Dokter menekankan untuk patuh minum obat. Jangan sampai kelewat hari atau bolong-bolong. Kepatuhan minum obat menentukan keberhasilan pengobatan. Agar bakteri juga tidak resisten dengan OAT. Kalo sampai bolong-bolong bisa-bisa ngulang lagi dengan dosis yang lebih besar. Konsultasi sudah selesai, saatnya aku pergi ke kasir pembayaran dan memasukkan resep ke farmasi. Aku mendapatkan resep obat OAT, vitamin B6, dan curcuma. Untuk curcuma di minum 2 kali setiap hari, sedangkan B6 diminum sekali sehari. Dokter juga membekali aku surat pengantar ronsen dada dan tes urin untuk jadwal kontrol bulan depan. Di Farmasi RSUP Saat memasukkan resep obat di farmasi, bagian farmasi mengatakan bahwa obat OAT di tanggung oleh pemerintah. Karena ada program penanggulangan TB se-Indonesia, jadi aku tidak usah membayar untuk obat merah/ 4FDC/ 4KDT. Hanya saja vitamin B6 dan curcumanya aku harus membayar dulu di kasir khusus pembayaran obat. Aku bersyukur banget ternyata aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk OAT. Tau sendiri kan tadi kisaran harganya berapa. Bisa bikin kantong beneran jebol wkwkkwkw. Oh ya, waktu itu syarat untuk aku bisa mendapatkan OAT secara gratis hanya dengan melampirkan 1 lembar fotokopi kartu kuning yang tadi aku dapat dari dokter paru. Oh ya untuk harga B6 dan curcuma mohon maaf ya aku beneran lupa harganya berapaan heheehee. Tapi seingetku sih untuk B6 nya murah, kalo yang curcumanya agak mahal. Soalnya harus beli 60 biji. Tanggal 6 November 2019 Hari ini hari pertama aku memulai OAT. Ada rasa cemas, secara obat yang di minum lumayan banyak dan gede-gede banget bentukannya ya Allah. Si obat merah ini yang nahan banget bentukkannya. Mana sekali minum 3 biji lagi. OAT ku minum 2 jam sebelum sarapan. Jadi sehabis aku solat subuh sekitar jam setengah 6 pagi aku konsumsi obat ini. Dokter mengingatkan kemaren kalo bisa obat ini selalu di minum di jam yang sama, agar khasiatnya lebih maksimal. Jangan sampai putus obat! Reaksi obat  Reaksi obat di aku setelah biasa saja. Aku tidak mengalami mual muntah. Malah mau muntah pas minum obatnya. GEDE banget cui! Nggak boong aku! Dibandingkan dengan obat cacing combantrine aja, ini obat terbesar yang pernah aku konsumsi wkwkwkkww. Selang 1 jam aku konsumsi obat OAT aku pipis, dan memang warna pipisnya kemerahan gitu tapi bukan berdarah loh ya. Aku sampai menampung pipisku untuk membuktikan kalo aman aja nggak sampai bewarna teh. Agak parno maklum obat keras sih yang ku konsumsi. Secara keseluruhan tidak ada masalah aku mengkonsumsi OAT di hari ini. Obat yang lain juga ku seling-seling minumnya. Obat curcuma setelah sarapan pagi. Siang minum vitamin B6, malam minum curcuma lagi. Selesai deh. Tanggal 7 November 2019 Masih sama seperti hari sebelumnya. Aku konsumsi obat OAT 2 jam sebelum sarapan jam setengah 6 pagi. Dan masih sama, masih kesulitan untuk menelan ni obat segede gaban. Jadi ada berasa sensasi mau muntah karena keselek ni obat. Sensasi kesulitan minum obat ini berlaku hampir satu bulan lamanya wkwkwkkw. Hari ini aku merasakan ada efek samping lain dari OAT, BAB ku bewarna merah, tapi bukan darah. Ini juga karena efek dari rifampicin. Jadi masih aman dan wajar aja kok. Rutinitas obat yang lain tetap sama di minum seperti hari sebelumnya. Dan ini berlaku sampai bulan ke dua pengobatan (bulan desember). Tanggal 3 Desember 2019 Hari ini aku berobat lagi ke poli paru. Kali ini aku sudah pindah berobat ke poli paru infeksi, karena TBC termasuk dalam penyakit yang di tangani di poli ini. Untuk dokter yang menangani tetep sama kok tidak ada perubahan. Oh ya lupa, untuk pengobatan TB jangan sampai putus atau henti obat ya. Jadi sebisa mungkin di perhitungkan kapan obat mau habis. Jadi bisa datang kembali ke rumah sakit sebelum obat habis. Setidaknya ada jarak beberapa hari sebelum obat abis sudah ke rumah sakit. Dokter juga biasanya membantu untuk menghitung kapan lagi akan kontrol. Dan disinilah fungsi kartu kuning pengobatan TB berguna.  Dokter mengingatkan jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan ronsen dada dan urine lengkap untuk mengetahui 1 bulan setelah pengobatan. Dokter juga mengatakan agar segera kontrol saat sudah mendapatkan hasil dari pemeriksaan tersebut. Untuk kontrol kali ini aku masih menggunakan umum ya. Dan sistem tebus obat di farmasi juga masih sama seperti bulan kemaren. Aku juga masih mendapatkan OAT sebanyak 90 biji, vitamin B6 30 biji, dan curcuma 60 biji. Cara konsumsi obatnya juga masih sama ya. Tanggal 5 Desember 2019 Hari ini sesuai surat pengantar yang ku peroleh dari dokter paru, aku di jadwalkan untuk melakukan ronsen toraks dan pemeriksaan urine lengkap. Aku melakukannya di laboratorium swasta dengan membawa surat pengantar. Pemeriksaannya cepat dan hasilnya juga bisa langsung jadi malam harinya. Tapi seperti biasa aku ambil esok harinya saja. Untuk harga ronsen dada 295 ribu sedangkan untuk urine lengkap 67 ribu. Tanggal 6 Desember 2019 Hari ini tiba-tiba aku berpikir, bagaimana kalo aku menggunakan BPJS ku saja untuk pengobatanku ini. Mengingat sudah lumayan banyak biaya yang ku keluarkan. Kan setidaknya lumayan untuk biaya kontrol ke dokter dan pengobatan bisa di cover BPJS. Kalau ada pemeriksaan lab-lab...</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/">Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites part 2</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Oke, kita lanjutkan perjalananku sebagai penyintas pleuritis TB di part 2 ini. Semoga kalian masih betah membacanya ya, heheheh. Yang belum baca part 1 bisa baca disini <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/">pengalaman pleuritis tb dengan efusi pleura dan asites</a>.</p>
<h2>Tanggal 21 Oktober 2019</h2>
<p>Hari ini aku ke RSUP lagi melalu jalur umum untuk berobat ke dokter penyakit dalam. Aku berobat kesana karena aku kembali demam dan aku berpikir apa ini gara-gara cairan di perutku kah ya. Aku kembali parno, karena hasil pemeriksaanku belum keluar. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk hasilnya. Untuk pemeriksaan sputum/ dahak membutuhkan 2 hari, sedangkan pemeriksaan lain sekitar 7 hari kerja.</p>
<p>Aku mengeluhkan ketakutanku tentang adanya cairan di perutku dan berkata pada dokter apa mungkin aku kembali terkena tipes. Karena bulan November aku di diagnosa tipes oleh dokter umum.</p>
<p>Akhirnya atas keluhanku tersebut dokter memeriksaku dan memintaku untuk di periksa darah lengkap. Saat pemeriksaan keluar dokter mengatakan aku mengalami anemia. Aku masih kekeh apa karena tipes, akhirnya dokter menjelaskan kepadaku saat aku menunjukkan hasil tes widal di RS swasta waktu itu. Hasil menunjukkan 1/40, kata dokter jika benar positif tipes harusnya hasil tes widal setidaknya 1/300. Seketika aku terdiam dan menyadari bahwa dari awal aku memang tidak sakit tipes wkkwkwkwk.</p>
<h2>Tanggal 30 Oktober 2019</h2>
<p>Hasil tes sudah ada di tangan, dan hari ini aku langsung menuju poli paru non infeksi untuk berkonsultasi terkait semua hasil pemeriksaan yang sudah keluar. Dokter menjelaskan hasil pemeriksaan, untuk pemeriksaan sputum tidak didapatkan bakteri yang terkandung di dalam air liurku (negatif), kemudian untuk hasil cairan pleura menunjukkan cairan mengarah ke transudat. Bagi kalian yang penasaran tentang transudat bisa baca disini <a href="https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-efusi-pleura-ketika-cairan-menumpuk-di-paru-paru">mengenal efusi pleura, cairan di pleura</a>. Sedangkan untuk hasil ADA test, dokter mengatakan hasilku hanya naik 4 point dari batas normal. Dan sebenarnya untuk di tegakkan diagnosis TB hasil biasanya menunjukkan diatas 100.</p>
<p>Aku juga mengeluhkan kepada dokter bahwa aku mengalami keringat malam yang berlebih sudah beberapa hari ini. Karena dokter masih agak meragukan dengan hasil pemeriksaan cairan pleuraku yang menunjukkan mengarah ke transudat, sehingga dokter menyarankanku untuk melakukan pemeriksaan ANA test (Antibodi Anti-Nuklear). Dokter ingin menyingkirkan kemungkinan cairan pleura dan asitesku berasal dari penyakit lain, yaitu SLE/ Lupus. Yang ingin tahu seputar lupus/ SLE bisa di cek disini <a href="https://www.alodokter.com/lupus">lupus</a>.</p>
<p>Dokter menjelaskan secara singkat tentang ANA test. Ana test adalah pemeriksaan untuk mengetahui kadar aktivitas antibodi pada darah yang melawan tubuh (reaksi autoimun). Berikut ini link buat kalian yang penasaran terkait ANA test, <a href="https://www.sehatq.com/tindakan-medis/tes-ana">pemeriksaan ANA test</a> atau <a href="https://hellosehat.com/sehat/tes-kesehatan/antibodi-anti-nuklear-tes-ana/">ANA test</a>.</p>
<p>Oh ya aku juga mengeluhkan dadaku berdebar kencang, dan dokter memberikanku resep untuk membantu menstabilkan debaran jantungku. Untuk pemeriksaan ini aku melalui jalur mandiri ya.</p>
<h2>Tanggal 1 November 2019</h2>
<p>Hari ini aku ke lab swasta berbekal surat pengantar lab dari dokter paru di RSUP. Aku hari ini melakukan pemeriksaan ANA test dan tes urin. Tidak membutuhkan waktu lama pemeriksaan selesai. Hasil juga bisa diterima malamnya, tapi aku memutuskan untuk mengambilnya esok hari.</p>
<p>Harga untuk pemeriksaan ANA test 720 ribu, sedangkan untuk pemeriksaan urine lengkap 67 ribu.</p>
<h2>Tanggal 5 November 2019</h2>
<p>Hari ini aku kembali ke poli paru RSUP dengan membawa hasil pemeriksaan ANA test dan urine. Dokter membacakan hasilnya, dan hasil ANA test ku negatif, sedangkan untuk urinku mengandung darah dan lekosit. Kata dokter itu bisa normal, karena wanita kadang suka mengalami infeksi.</p>
<p>Dari hasil tersebut dokter memutuskan untuk memberikan aku terapi OAT dengan pertimbangan nilai ADA test ku yang naik 4 point. Walaupun secara pasti harusnya diatas 100 baru dinyatakan TBC, tapi untuk mengantisipasi dokter akan memberikanku obat TBC selama 6 bulan, apalagi aku juga mengalami keringat yang berlebih saat malam hari. Di karenakan ini penyakit yang cukup mematikan jika tidak di obati, dokter akhirnya mempertimbangkan untuk pemberian terapi OAT (Obat Anti Tuberkulosis).</p>
<p>Dokter menyarankanku untuk memakai BPJS saja, tapi karena waktu itu aku masih bingung agar aku bisa mendapatan rujukan ke RS tipe A (RSUP) bagaimana dan takut membuang waktu lebih lama, jadinya aku memutuskan memakai umum saja. Dokter mewanti-wanti kemungkinan mahalnya biaya obat, karena nanti akan mendapatkan sekitar 90 biji, sehari minum 3 biji. Jadi perhitungan sehari obatnya sekitar 21 ribuan. Kalo harus minum sebulan ya dikalikan saja, kira-kira sekitar 610 ribuan. Dan ada obat-obat pendamping untuk mengamankan fungsi hati/ liver. Obat lain yang di resepkan ada B6 dan curcuma.</p>
<p>Aku setuju saja, pikirku agar cepat sembuh. Karena aku tau bahayanya sakit TBC jika tidak segera ditangani.</p>
<h3>Penjelasan dari dokter</h3>
<p>Akhirnya dokter menjelaskan lebih rinci. Dokter mengatakan penyakitku ini pleuritis TB, TB ekstra paru. Dimana bakteri menginfeksi selaput paru-paruku (pleura) sehingga menyebabkan adanya cairan pleura yang berlebihan. Tapi kemungkinan kecil aku untuk menginfeksi orang lain, karena bakteri tidak terkandung didalam air liurku.</p>
<p>Dokter menjelaskan dalam masa pengobatan dengan OAT dibagi 2 fase. Fase intensif dan fase lanjutan. Fase intensif akan dilakukan selama 2 bulan pertama menggunakan obat 4FDC/ 4KDT dan diminum setiap hari, kemudian dilanjutkan fase lanjutan dimana nanti hanya mengkonsumsi 3 kali dalam seminggu dan hanya 2 obat saja. Untuk fase lanjutan, dokter dan aku sepakat meminum obat pada hari senin, rabu, jumat.</p>
<p>Untuk obat 4FDC terdiri dari 4 komponen obat, rifamcipin 150 mg, isoniazid 75 mg, pyrazinamid 400 mg, ethambutol 275 mg. Ini komposisi dalam 1 tablet ya. Untuk pengobatan intensif setiap hari obat ini diminum 3 biji, 2 jam sebelum makan pagi. Untungnya ada obat yang menyediakan 4 komponen dalam 1 obat ni, kalo nggak kebayang dong banyaknya tuh obat yang harus di minum. Secara kebutuhan harian aja untuk rifamcipin 450 mg, isoniazid 225 mg, pyrazinamid 1200 mg, ethambutol 825 mg. FIX banget kalo kalian sedang pengobatan OAT jangan lupa banyak minum air putih ya! Minimal 2 liter harus tercapai! agar kerja ginjalnya nggak berat.</p>
<p>Oh ya, ketentuan berapa biji obat perhari di tentukan dari BB ya, jadi semakin besar BB seseorang jumlah obatnya juga lebih banyak begitu pula sebaliknya. Kebetulan BB ku 41 kg, jadi aku konsumsi 3 biji OAT setiap harinya. Untuk jelasnya bisa baca seputar OAT disini ya <a href="http://hisfarsidiy.org/serba-serbi-obat-anti-tuberculosis/">OAT</a> atau disini ni <a href="http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-5-infeksi/52-tuberkulosis-dan-leprosi/521-antituberkulosis">Obat anti tuberkulosis</a> lengkap banget buat pengetahuan seputar OAT dari fungsi, efek samping sampai jumlah dosisnya.</p>
<figure id="attachment_616" aria-describedby="caption-attachment-616" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img fetchpriority="high" decoding="async" class="size-medium wp-image-616" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery-300x241.jpg" alt="OAT 4FDC" width="300" height="241" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery-300x241.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery-1024x822.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery-768x616.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery-1140x915.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/Screenshot_20210422-185732_Gallery.jpg 1485w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-616" class="wp-caption-text">OAT 4FDC/ 4KDT</figcaption></figure>
<h3>Lanjutan penjelasan dokter</h3>
<p>Dokter juga menjelaskan kemungkinan efek samping yang akan kualami saat meminum OAT, mulai dari mual ringan, kencing merah (untuk kencing merah tidak apa apa, karena ini pengaruh dari komponen obat rifampicin). Jika aku mengalami mata/ badan kuning, BAK bewarna teh, nyeri sendi dan bengkak, muntah berat maka aku harus segera kontrol kembali.</p>
<p>Dokter juga menjelaskan nanti aku akan di ronsen toraks ulang sebulan setelah pengobatan intensif, akan dilakukan pemeriksaan sputum di akhir bulan ke 2 pengobatan. Dan di bulan ke 6 pengobatan akan di periksa sputum, ronsen toraks ulang dan usg abdomen (mengingat aku juga mengalami asites di perut). Dokter berkata jika ini memang bukan karena penyakit lupus, maka nanti hasil ronsen toraks setelah 1 bulan terapi OAT akan menunjukkan hasil yang baik. Dokter juga menekankan asites juga bisa hilang dan terserap tubuh jika pengobatan OAT tepat sasaran.</p>
<p>Kemudian dokter memberikan aku kartu kuning, sebagai kartu kontrol untuk pengobatan TB. Kartu ini harus di bawa setiap kali berobat. Aku punya contoh fotokopiannya ni tapi tidak bewarna kuning. Sekedar informasi, kartu kuning yang asli sudah di tarik kembali sama RSUP nya saat pengobatan kita sudah selesai, dan memang kartunya bewarna kuning ya.</p>
<p><figure id="attachment_620" aria-describedby="caption-attachment-620" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-620" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-300x300.jpg" alt="kartu kuning penanggulangan TB bagian depan" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124630-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-620" class="wp-caption-text">kartu kuning penanggulangan TB bagian depan</figcaption></figure> <figure id="attachment_621" aria-describedby="caption-attachment-621" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-621" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-300x300.jpg" alt="kartu kuning penanggulangan TB bagian belakang" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210422_124642-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-621" class="wp-caption-text">kartu kuning penanggulangan TB bagian belakang</figcaption></figure></p>
<p>Dokter menekankan untuk patuh minum obat. Jangan sampai kelewat hari atau bolong-bolong. Kepatuhan minum obat menentukan keberhasilan pengobatan. Agar bakteri juga tidak resisten dengan OAT. Kalo sampai bolong-bolong bisa-bisa ngulang lagi dengan dosis yang lebih besar.</p>
<p>Konsultasi sudah selesai, saatnya aku pergi ke kasir pembayaran dan memasukkan resep ke farmasi. Aku mendapatkan resep obat OAT, vitamin B6, dan curcuma. Untuk curcuma di minum 2 kali setiap hari, sedangkan B6 diminum sekali sehari. Dokter juga membekali aku surat pengantar ronsen dada dan tes urin untuk jadwal kontrol bulan depan.</p>
<h3>Di Farmasi RSUP</h3>
<p>Saat memasukkan resep obat di farmasi, bagian farmasi mengatakan bahwa obat OAT di tanggung oleh pemerintah. Karena ada program penanggulangan TB se-Indonesia, jadi aku tidak usah membayar untuk obat merah/ 4FDC/ 4KDT. Hanya saja vitamin B6 dan curcumanya aku harus membayar dulu di kasir khusus pembayaran obat. Aku bersyukur banget ternyata aku tidak perlu mengeluarkan uang untuk OAT. Tau sendiri kan tadi kisaran harganya berapa. Bisa bikin kantong beneran jebol wkwkkwkw. Oh ya, waktu itu syarat untuk aku bisa mendapatkan OAT secara gratis hanya dengan melampirkan 1 lembar fotokopi kartu kuning yang tadi aku dapat dari dokter paru.</p>
<p>Oh ya untuk harga B6 dan curcuma mohon maaf ya aku beneran lupa harganya berapaan heheehee. Tapi seingetku sih untuk B6 nya murah, kalo yang curcumanya agak mahal. Soalnya harus beli 60 biji.</p>
<h2>Tanggal 6 November 2019</h2>
<p>Hari ini hari pertama aku memulai OAT. Ada rasa cemas, secara obat yang di minum lumayan banyak dan gede-gede banget bentukannya ya Allah. Si obat merah ini yang nahan banget bentukkannya. Mana sekali minum 3 biji lagi. OAT ku minum 2 jam sebelum sarapan. Jadi sehabis aku solat subuh sekitar jam setengah 6 pagi aku konsumsi obat ini. Dokter mengingatkan kemaren kalo bisa obat ini selalu di minum di jam yang sama, agar khasiatnya lebih maksimal. Jangan sampai putus obat!</p>
<h3>Reaksi obat </h3>
<p>Reaksi obat di aku setelah biasa saja. Aku tidak mengalami mual muntah. Malah mau muntah pas minum obatnya. GEDE banget cui! Nggak boong aku! Dibandingkan dengan obat cacing combantrine aja, ini obat terbesar yang pernah aku konsumsi wkwkwkkww.</p>
<p>Selang 1 jam aku konsumsi obat OAT aku pipis, dan memang warna pipisnya kemerahan gitu tapi bukan berdarah loh ya. Aku sampai menampung pipisku untuk membuktikan kalo aman aja nggak sampai bewarna teh. Agak parno maklum obat keras sih yang ku konsumsi.</p>
<p>Secara keseluruhan tidak ada masalah aku mengkonsumsi OAT di hari ini. Obat yang lain juga ku seling-seling minumnya. Obat curcuma setelah sarapan pagi. Siang minum vitamin B6, malam minum curcuma lagi. Selesai deh.</p>
<h2>Tanggal 7 November 2019</h2>
<p>Masih sama seperti hari sebelumnya. Aku konsumsi obat OAT 2 jam sebelum sarapan jam setengah 6 pagi. Dan masih sama, masih kesulitan untuk menelan ni obat segede gaban. Jadi ada berasa sensasi mau muntah karena keselek ni obat. Sensasi kesulitan minum obat ini berlaku hampir satu bulan lamanya wkwkwkkw.</p>
<p>Hari ini aku merasakan ada efek samping lain dari OAT, BAB ku bewarna merah, tapi bukan darah. Ini juga karena efek dari rifampicin. Jadi masih aman dan wajar aja kok.</p>
<p>Rutinitas obat yang lain tetap sama di minum seperti hari sebelumnya. Dan ini berlaku sampai bulan ke dua pengobatan (bulan desember).</p>
<h2>Tanggal 3 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini aku berobat lagi ke poli paru. Kali ini aku sudah pindah berobat ke poli paru infeksi, karena TBC termasuk dalam penyakit yang di tangani di poli ini. Untuk dokter yang menangani tetep sama kok tidak ada perubahan.</p>
<p>Oh ya lupa, untuk pengobatan TB jangan sampai putus atau henti obat ya. Jadi sebisa mungkin di perhitungkan kapan obat mau habis. Jadi bisa datang kembali ke rumah sakit sebelum obat habis. Setidaknya ada jarak beberapa hari sebelum obat abis sudah ke rumah sakit. Dokter juga biasanya membantu untuk menghitung kapan lagi akan kontrol. Dan disinilah fungsi kartu kuning pengobatan TB berguna. </p>
<p>Dokter mengingatkan jangan lupa untuk melakukan pemeriksaan ronsen dada dan urine lengkap untuk mengetahui 1 bulan setelah pengobatan. Dokter juga mengatakan agar segera kontrol saat sudah mendapatkan hasil dari pemeriksaan tersebut.</p>
<p>Untuk kontrol kali ini aku masih menggunakan umum ya. Dan sistem tebus obat di farmasi juga masih sama seperti bulan kemaren. Aku juga masih mendapatkan OAT sebanyak 90 biji, vitamin B6 30 biji, dan curcuma 60 biji. Cara konsumsi obatnya juga masih sama ya.</p>
<h2>Tanggal 5 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini sesuai surat pengantar yang ku peroleh dari dokter paru, aku di jadwalkan untuk melakukan ronsen toraks dan pemeriksaan urine lengkap. Aku melakukannya di laboratorium swasta dengan membawa surat pengantar.</p>
<p>Pemeriksaannya cepat dan hasilnya juga bisa langsung jadi malam harinya. Tapi seperti biasa aku ambil esok harinya saja. Untuk harga ronsen dada 295 ribu sedangkan untuk urine lengkap 67 ribu.</p>
<h2>Tanggal 6 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini tiba-tiba aku berpikir, bagaimana kalo aku menggunakan BPJS ku saja untuk pengobatanku ini. Mengingat sudah lumayan banyak biaya yang ku keluarkan. Kan setidaknya lumayan untuk biaya kontrol ke dokter dan pengobatan bisa di <em>cover</em> BPJS. Kalau ada pemeriksaan lab-lab lagi juga bisa ter<em>cover</em>. Lagipula sekarang pengobatanku sudah masa stabil. Tidak perlu tindakan cepat tanggap lagi seperti awal-awal pengobatan kemaren.</p>
<p>Akhirnya aku memutuskan untuk meminta surat rujukan saja untuk ke RS tipe A (RSUP) tempat aku berobat. RSUP termasuk faskes tingkat ketiga atau lanjutan ya. Jadi harus minta surat rujukan dari faskes tingkat kedua dulu.</p>
<p>Sekedar informasi di tanggal 20 an bulan november 2019 aku sempat mengalami SVT. Sehingga aku bisa dapat surat rujukkan ke faskes tingkat kedua. Tapi karena puskesmas tau aku sedang dalam masa pengobatan pleuritis TB jadi aku di kasih rujukkan ke poli paru. Padahal waktu itu yang bermasalah jantungku sehingga lagi-lagi untuk penanganan cepat tanggap mengatasi SVT ku yang tidak kembali normal aku berobat mandiri lagi di RSUP wkkwkwkw. Untuk cerita ini kapan-kapan aja ya aku ceritanya, kalo sempat dan semangat ber-karlota hehehe.</p>
<p>Singkat cerita aku jadi kepikiran untuk meminta surat rujukan untuk ke poli paru RSUP lewat RS tingkat kedua rujukkan pukesmas. Oh ya, untuk yang belum tau, surat rujukkan BPJS dari puskesmas berlaku 3 bulan lamanya ya. Jadi saat kamu dapet surat rujukannya bisa kamu fotokopi dulu untuk jaga-jaga biar bisa di pake berulang kali ke faskes kedua. Biar nggak perlu dateng lagi ke puskesmas. Karena kalo kamu dateng ke puskesmas buat minta surat rujukan lagi paling cuma di bantu ngeprint aja. Untuk masa berlakunya tetep sama dengan print-nan yang kamu pake sebelumnya. Jadi daripada buang waktu mending kamu fotokopi dan simpan surat rujukan BPJS dari puskesmas untuk ke faskes tingkat kedua. </p>
<h2>Tanggal 7 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini aku berobat ke RS rujukan BPJS tingkat kedua. Aku berobat ke poli parunya karena rujukannya memang ke poli paru. Saat bertemu dokter paru disana aku mengatakan kalau sedang dalam terapi OAT pleuritis TB. Dan bermaksud meminta surat rujukan agar bisa melanjutkan pengobatan disana. Akhirnya dokter memberikan surat rujukan ke faskes tingkat ketiga/lanjutan. </p>
<p>Surat rujukan yang aku dapat dari faskes tingkat kedua untuk ke faskes tingkat ketiga berupa surat rujukan dan surat elegibilitas. Surat rujukan kali ini bentuknya berbeda dari yang di dapet di puskesmas. Ini bentuknya lebih ke surat cetakan online gitu. Ada lembar putih, kuning dan pink nya.</p>
<h2>Tanggal 10 Desember 2019</h2>
<p>Untuk pertama kali akhirnya aku berobat ke poli paru RSUP menggunakan BPJS. Kali ini aku datang lagi ke poli paru infeksi untuk konsul terkait hasil pemeriksaan ronsen dada dan urine lengkap.</p>
<figure id="attachment_595" aria-describedby="caption-attachment-595" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-595" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-300x300.jpg" alt="Ronsen toraks paramita lab" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113906-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-595" class="wp-caption-text">Gambaran paru setelah sebulan terapi OAT</figcaption></figure>
<p>Dokter mengatakan hasil ronsen dadaku bagus. Sudah ada perbaikan pada pleuraku. Sudah tidak ada lagi  produksi cairan berlebih di pleura ini berarti OAT bekerja dengan sangat baik di tubuh. Hasil urine ku juga sudah baik. Alhamdulillah. Aku juga mengeluhkan mengalami nyeri sendi, dokter berkata itu tidak apa-apa pengaruh dari obat pirazinamid yang dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah.</p>
<p>Dokter selalu mengingatkan agar semangat minum obat dan tidak putus obat, agar bisa sembuh. Kemudian dokter juga memberikan surat pengantar pemeriksaan sputum untuk di akhir pengobatan bulan kedua ini. Hasilnya nanti diminta untuk di bawa saat kontrol di akhir bulan desember ini. Untuk konsul kali ini aku sama sekali tidak mengeluarkan uang, semua tercover BPJS.</p>
<h2>Tanggal 27 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini sesuai jadwal aku ke laboratorium RSUP untuk meminta wadah pemeriksaan sputum/ dahak. Seperti yang sebelumnya aku di beri pengarahan untuk pengambilan sputum. Satu botol untuk dahak sebelum tidur malam, satunya lagi setelah bangun tidur. Sesuai arahan aku melakukannya.</p>
<h2>Tanggal 31 Desember 2019</h2>
<p>Hari ini aku kontrol sesuai jadwal kartu kuning penanggulangan TB, dengan membawa hasil pemeriksaan sputum. Hasil pemeriksaan sputumku negatif, kata dokter ini membuktikan memang tidak salah dalam pengambilan sputum di awal terapi kemaren dulu. Dan dengan hasil ini juga membuktikan aku tidak berpotensi menularkan penyakit ini ke orang lain.</p>
<p>Kontrol kali ini sudah masuk di akhir babak pengobatan fase intensif. Sehingga aku akan mulai dengan terapi fase lanjutan. Dimana aku hanya mengkonsumsi 2 obat saja, yaitu Rimfacipin dan isoniazid. Untuk dosisnya lagi-lagi di tentukan sesuai BB ya. Aku juga masih mendapatkan vitamin B6 setiap hari dan curcuma. Cuma kali ini curcuma diminum sehari sekali saja.</p>
<p>Mulai nanti saat obat merah/ 4FDC habis aku akan mengkonsumsi obat rimfacipin dan isoniazid secara terpisah. Karena kebetulan di RSUP tidak ada obat kombinasi kedua jenis obat ini. Minum obat yang kali ini juga seminggu 3 kali saja, dan sesuai kesepakatan obat ini diminum hari senin, rabu dan jumat. Disinilah terkadang godaan putus obat dan lupa minum obat muncul. Sehingga memang harus bertekat kuat dan semangat sembuh serta dukungan dari orang sekitar atau keluarga berperan penting.</p>
<p>Untuk aku pribadi, selain di bantu diingatkan orang-orang terdekat, aku memasang alarm di hape setiap hari senin, rabu, jumat jam setengah 6 pagi. Selain itu aku juga menulis jadwal tersebut di cermin kamarku. Hal ini bermanfaat banget loh! Jadi kita selalu teringat jadwal minum obat. Insha Allah nggak bakalan terlewat. Aku sudah membuktikannya! Tapi yang pasti emang niat dari diri sendiri sih, karena seiring berjalannya waktu orang-orang disekitarmu juga nggak bisa kamu harapkan untuk selalu ngingetin kamu setiap saat untuk minum obat. Jadi emang harus niatan kuat untuk sembuh dari diri sendiri!</p>
<h2>Tanggal 15 Januari 2020</h2>
<p>Sudah beberapa bulan ini aku mengalami nyeri sendi. Dan akhir-akhir ini rasanya parah banget. Rasanya benar-benar sakit sampai sulit berjalan. Bahkan saat aku naik turun tangga aku seperti kepiting, berjalan samping. Bangun tidur juga badan rasanya nggak seger malah berasa habis maraton dan dipukuli sekampung wkwkww, capek banget. Tapi aku pikir karena pengaruh obat pirazinamid kata dokter sih begitu. </p>
<h2>Tanggal 23 Januari 2020</h2>
<p>Karena aku sudah tidak tahan lagi dengan nyeri sendi ini, padahal obat piraziramid sudah tidak aku konsumsi setengah bulanan lebih akhirnya aku memutuskan untuk datang ke dokter paru untuk berkonsultasi. Saat bertemu dengan dokter, aku menceritakan keluh kesahku terkait dengan nyeri sendi yang kualami. Karena aku sudah tidak mengkonsumsi obat piazinamid maka kata dokter kemungkinan aku sudah tidak merasakan nyeri sendi akibat obat tersebut. Perlu di ketahui pirazinamid dapat meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Akhirnya dokter memberikan aku surat pengantar untuk pemeriksaan asam urat hari ini dan diminta membawa hasilnya saat kontrol akhir bulan januari.</p>
<h2>Tanggal 28 Januari 2020 </h2>
<p>Hari ini pagi-pagi sekali aku sudah ke laboratorium RSUP untuk mengambil hasil pemeriksaan asam urat. Setelah hasil sudah ditangan saatnya aku kontrol untuk pengambilan rutin OAT. Saat bertemu dokter akupun memperlihatkan hasil peeriksaan asam urat. Dokter berkata asam uratku normal, harusnya aku tidak merasakan nyeri sendi lagi. Tapi karena aku masih mengalami keluhan nyeri sendi yang mengganggu akhirnya aku di rujuk internal ke poli penyakit dalam sub spesialis rheumatoid arthritis.</p>
<p>Sehabis kontol dari poli paru aku langsung melanjutkan untuk periksa ke poli penyakit dalam. Disana aku kembali menceritakan keluhan yang ku alami. Akhirnya dokter memberikan surat pengantar untuk pemeriksaan darah yang meliputi darah lengkap, tiroid, pemeriksaan protein spesifik dan pemeriksaan ronsen pada bagian-bagian sendi yang ku merasa nyeri. Untuk total harganya pemeriksaan ini bikin aku kaget. Semua pemeriksaan ini mencapai harga 1,5 jutaan lebih. Itu belum termasuk obat dari paru, konsul dokter paru dan dokter penyakit dalam. Untung semua bisa tercover oleh BPJS. Untuk cerita tentang rheumatoid arthritis ini juga kapan-kapan aja ya jika aku sempat dan semangat ber-karlota.</p>
<h1>Bulan APRIL yang ku tunggu-tunggu</h1>
<p>Sampailah pada bulan april yang ku tunggu-tunggu. Dimana ini merupakan bulan terakhir pengobatan pleuritis TB ku. Aku sangat <em>happy </em>mengingat bulan ini bulan puasa. Aku sudah tidak sabar untuk ikut berpuasa bulan ini!</p>
<h2>Tanggal 21 April 2020</h2>
<p>Hari ini aku kontrol ke dokter paru. Karena ini sudah memasuki bulan akhir pengobatan TB, sudah 6 bulan pengobatan. Maka aku kembali diberi surat pengantar untuk melakukan ronsen toraks dan usg abdomen untuk melihat masih ada tidaknya cairan dalam perutku. Dokter juga memberikan surat pengantar pemeriksaan sputum/ dahak untuk tanggal 23 april 2020, tepat satu hari setelah OAT ku selesai. Aku juga di jadwalkan untuk bertemu dokter lagi tanggal 24 April 2020 untuk melihat semua hasil pemeriksaan.</p>
<h2>Tanggal 24 April 2020</h2>
<p>Aku datang kembali ke poli paru dengan membawa semua hasil pemeriksaan. Baik hasil ronsen toraks, usg abdomen dan hasil sputum. Hasil sputum menunjukkan negatif, ronsen toraks juga sudah menunjukkan paruku sudah baik dan kembali mengembang normal. Hasil usg abdomenku juga sudah tidak ditemukan cairan lagi. Per hari ini aku dinyatakan sembuh oleh dokter. Alhamdulillah!</p>
<figure id="attachment_597" aria-describedby="caption-attachment-597" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-597" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-300x300.jpg" alt="Ronsen toraks di RSUP" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113954-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-597" class="wp-caption-text">Gambaran paru evaluasi pengobatan bulan ke 6</figcaption></figure>
<h2>Pesan dan kesan</h2>
<p>Saat aku mengalami sakit ini aku belajar kesabaran, ketelatenan dan pasrah kepada Allah SWT bawa ini memang jalan hidupku.  Jalan yang sudah memang dituliskan untukku. Aku bisa pahami mungkin sebagian banyak orang yang terkena penyakit TB akan merasa tidak percaya dan menyalahkan tuhan. Selalu bertanya-tanya kenapa bisa dapat sakit ini.</p>
<p>Tapi kembali lagi, semua yang kita alami pasti ada hikmahnya. Dan dari sakit ini aku dapat hikmah yang luar biasa. Aku jadi tahu bahwa semua keluargaku sangat mencemaskanku, sangat menyayangiku. Ingat banget aku, saat aku sakit ini dan lagi di puncak-puncaknya sesak nafas seperti orang mau meninggal, disitu mamakku menggosok badanku dengan minyak tawon, Almarhum bapakku memijat lembut kakiku sampai ketelapak kakiku agar aku bisa tertidur pulas. Aku sangat bisa melihat curahan kasih sayang mereka. Yah, mendadak aku jadi nangis mengingat masa-masa itu. </p>
<p>Buat semua orang yang sedang berjuang melawan sakit TB tetap semangat ya! Jangan sampai putus obat! Kalian pasti bisa sembuh. Penyakit TB bisa disembuhkan karena ada obatnya. Jangan merasa sehat saat sudah selesai pengobatan fase intensif. Jangan merasa lelah dan capek dengan rutinitas minum obat! Pengobatan HARUS di tuntaskan sampai akhir agar tidak menjadi resisten.</p>
<p>Penyakit TB bukan penyakit aib. Kurangnya pengetahuan yang membuat lingkungan sekitar malu untuk berobat dan mengucilkan orang yang sedang berjuang dengan penyakit TB. Ayo kita harus melek akan penyakit ini! Penyakit ini masih menjadi penyakit menular dan mematikan nomer 1 didunia. Kita harus berjuang bersama-sama untuk mendukung orang-orang yang sedang mengobati penyakit TB. Kita juga jangan malu untuk berobat dan menuntaskan pengobatan jika terkena penyakit TB.</p>
<p>Sekian cerita aku mengenai perjalananku sebagai penyintas pleuritis TB. Semoga ada informasi yang bisa di peroleh, dan bisa bermanfaat. Tetap semangat dan tetap sehat semuanya! Sampai jumpa di postingan selanjutnya! 🙂</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/">Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites part 2</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites</title>
		<link>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/</link>
					<comments>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[istapuspit]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2021 02:51:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[asites]]></category>
		<category><![CDATA[Efusi pleura]]></category>
		<category><![CDATA[health]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<category><![CDATA[Pleuritis TB]]></category>
		<category><![CDATA[TBC]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://istapuspit.com/?p=581</guid>

					<description><![CDATA[<p>Pada kesempatan kali ini aku tidak akan membahas seputar skincare atau makanan seperti biasanya. Ijinkan aku untuk bercerita tentang pengalaman pribadiku sebagai penyintas pleuritis TB dengan pengobatan 6 bulan lamanya. Sepertinya ini akan menjadi salah satu postingan blog ku yang panjang sekali. Harap maklum yaa, hehehe. Pada hari ini tanggal 22 April 2021 tepat sudah setahun yang lalu aku selesai pengobatan OAT pleuritis TB. Dan tanggal 24 April 2020 yang lalu, aku resmi dinyatakan sembuh dari penyakit pleuritis TB. Alhamdulillah! Aku berharap dengan adanya cerita di blog ini, kalian bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat dan bisa mengubah stigma tentang penyakit TBC, sehingga tidak perlu menjauhi/ mengucilkan penderita serta menganggap penyakit TBC sebagai penyakit aib. Buat yang sedang mengalami penyakit yang sama tetap semangat dalam pengobatan dan jangan putus obat ya! Insha Allah bisa sembuh kok :). Sebelum aku mulai menceritakan pengalamanku, aku akan sedikit memberi info terkait TBC yang mungkin sekiranya bisa memberi wawasan mendasar untuk kalian.  TBC (Tuberkulosis) Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Kebanyakan dari kita mengetahui kalau penyakit TBC menyerang organ paru-paru, dengan muncul gejala batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu) biasanya disertai dahak dan terkadang mengeluarkan darah. Namun faktanya bakteri TBC bisa menyerang bagian tubuh lainnya seperti kulit, kelenjar getah bening, tulang, usus, selaput rongga perut (peritonium), selaput paru-paru (pleura), otak, atau organ yang lainnya. Infeksi TBC juga terbagi menjadi TBC aktif dan TBC laten. Dimana TBC aktif dapat menularkan orang lain melalui percikan air liur atau droplet dengan gejala berupa batuk, sedangkan TBC laten/ tb non aktif tanpa gejala apapun sehingga tidak berpotensi menularkan bakterinya kepada orang lain. Dalam kondisi TB laten bakteri sedang dalam keadaan tertidur dan bisa berlangsung sampai bertahun-tahun. Kalau penasaran dengan TB laten bisa baca disini ya waspadai TB laten. Perlu diketahui juga, TBC yang menyerang paru disebut TB paru sedangkan TBC yang menyerang organ lain atau di luar paru-paru di sebut TB ekstra paru. Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini ya TB ekstra paru atau TB di luar paru-paru Perlu diketahui bahwa saat ini TBC masih termasuk penyakit menular dan mematikan nomer 1 di dunia. Tapi jangan khawatir, TBC bisa di sembuhkan kok karena ada obatnya! Kalo informasi seputar TBC masih kurang lengkap, kalian bisa baca disini ya tuberkulosis. Oke, sekarang langsung aja ya aku cerita pengalamanku sebagai penyintas pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites. Gejala apa saja yang aku alami dan perjalanan proses yang aku tempuh sehingga bisa di tegakkan aku menderita sakit ini serta pengobatan yang kuterima sekaligus nanti aku juga bakalan cerita tipis-tipis pengalamanku menggunakan BPJS dari yang sebelumnya periksa jalur umum/ mandiri. Yuk langsung aja ku mulai ya. Awal mula terjadinya Sekitar bulan September tahun 2019, tengah bulan aku mengalami demam yang cukup tinggi. Waktu itu suhu sampai 38-39 derajat celsius. Dan berlangsung sekitar 2 mingguan lebih. Demam muncul saat siang menuju sore hari. Saat pagi sampai siang tampak baik-baik saja. Tidak ada gejala batuk, atau yang lain, hanya demam saja. Saat demam meningkat aku mengkonsumsi obat penurun panas sanmol, lalu turun setelahnya begitu terus ritmenya. Tidak ada aku kepikiran aku bakalan sakit ini. Soalnya sebelum demam dimulai aku makan baso aci. Aku ingat betul saat itu. Sehabis makan aku malah demam. Aku pikir aku salah makan hehhee. Waktu itu demamku tidak hampir setiap hari ya. Ada jeda 1-2 hari aku sembuh dan baik-baik saja. Tapi kalo di hitung saat aku demam ya sekitar 2 mingguan. Karena tidak tahan lagi dengan panas tubuh yang naik turun, serta ketakutanku jangan-jangan aku tipes ni, atau jangan-jangan aku demam berdarah ni. Ada keparnoan sendiri karena dulu pernah sempat di rawat inap akibat demam berdarah yang trombositnya waktu itu susah banget buat balik normal. Akhirnya aku memutuskan ke puskesmas. Tanggal 26 September 2019 Akhirnya aku pagi ini memutuskan pergi ke puskesmas karena sudah frustasi dengan demam yang tak kunjung sembuh. Seperti biasa saat pagi kondisi badanku membaik tidak demam sehingga saat di puskesmas terlihat baik-baik saja.  Puskesmas Aku menyampaikan keluhan yang ku alami di puskesmas. Dan dokter hanya menanggapi santai, mewawancara seperti biasa saat berobat ke puskesmas tanpa ada pemeriksaan fisik apa-apa.  Dokter puskesmas kemudian memintaku untuk di cek darah lengkap dan lain-lain di puskesmas tersebut. Kebetulan puskesmas ini puskesmas besar, jadi tersedia laboratoriumnya. Sehabis selesai pengambilan darah dan menunggu sekitar setengah jam- satu jam aku kembali lagi ke ruangan dokter puskesmas. Disana aku di jelaskan kalau aku baik-baik saja dari hasil pemeriksaan darah, hanya mengalami anemia. Saat aku di tanya apa masih ada obat penurun panas di rumah, aku jawab masih ada. Lalu di sarankan untuk meminum lagi jika kambuh demamnya. Saat itu aku agak kaget, karena demamku sudah selama 2 minggu tapi kenapa dokter hanya memberi saran seperti itu. Tanpa memintaku untuk segera kembali ke puskesmas atau ke RS terdekat jika demamku tidak sembuh-sembuh untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Setelah itu kemudian aku disuruh balik ke rumah. Aku pulang dengan penuh tanda tanya. Jujur saat itu aku agak kecewa saat pergi ke puskesmas. Karena aku tidak benar-benar mendapatkan informasi apa yang terjadi dengan diriku ini. Dan aku juga tidak dibawakan obat apa-apa dari puskesmas. Hanya diminta untuk meminum obat penurun panas lagi jika kambuh demamnya. Dan benar saja, saat waktu menunjukkan pukul 14.00 badanku kembali demam, suhu waktu itu 38 derajat. Karena aku sudah cukup lelah dengan hanya mengandalkan obat penurun panas akhirnya aku memutuskan berobat mandiri ke rumah sakit swasta dekat rumah.  Rumah sakit  Di rumah sakit untung saja ada poli sore dokter umum. Aku menceritakan keluhanku kepada dokter, kemudian aku di periksa fisik dan di minta untuk pemeriksaan darah (darah lengkap dan tes widal untuk pemeriksaan tipes). Saat hasil pemeriksaan darah sudah ditangan aku kembali berkonsultasi ke dokter. Dan kata dokter hasil tes widal ku menunjukkan aku terkena tipes. Tidak perlu rawat inap, cukup rawat jalan saja tidak apa-apa. Aku cukup lega saat mengetahui penyebab aku sakit demam ini kenapa. Kemudian aku pulang dibekali dengan obat antibiotik, dan obat demam yang kurasa cukup paten soalnya pake tempat botol kaca. Aku akhirnya mulai meminum obat yang diberikan dokter secara rutin. Walau rupanya aku masih sempat naik turun lagi demamnya. Akupun sampai hopeless. Obat demam paten yang di kasih sudah mau habis tapi kok belum sembuh-sembuh. Eh rupanya tepat tersisa 3 tablet aku akhirnya sembuh. Akupun senang dan sudah tidak memikirkan lagi apa yang kemaren kualami. Tanggal 9 Oktober 2019 Hanya berselang 13 hari dari aku berobat aku mulai merasa ada yang beda dengan perutku. Seperti agak membuncit, tapi badanku tetap sama tidak menggendut. Saat aku timbang badan aku juga mengalami penambahan BB dan aku waktu itu senang-senang saja tanpa memikirkan ada hal yang ganjil. Sebenarnya aku udah merasakan ada yang aneh dengan perutku ini. Apalagi saat aku buang air kecil dalam posisi jongkok. Perutku seperti mengembang macam ibu hamil dan lebih menonjol lagi di bagian kandung kemihnya. Aku tidak berpikir macam-macam, kupikir hanya karena kebanyakan makan hahahaa. Sampailah saat mamakku melihat ada yang berbeda dengan perutku. Mamakku mengatakan ada yang tidak wajar dengan bentuk perutku. Mamakku takut aku mengalami sakit liver atau hati. Mengingat nenekku dulu ada masalah dengan livernya. Aku bilang tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja. Aku berkata seperti itu karena memang tidak ada keluhan apa-apa hanya merasa buncit saja. Namun untuk membuat mamakku merasa lega akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter spesialis di rumah sakit dekat rumah yang sebelumnya aku periksa disana. Tanggal 10 Oktober 2019 Aku kembali berobat mandiri di rumah sakit dekat rumahku. Kali ini aku langsung menembak untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam. Saat aku bertemu dokter aku mengeluhkan keluhanku terkait perutku yang sedikit membuncit. Tapi saat itu aku lebih menekankan kalau kadung kemihku seperti balon mengambang saat aku jongkok berkemih. Lalu dokter pun melakukan pemeriksaan fisik, kemudian menjadwalkan aku untuk dilakukan pemeriksaan usg vesica urinaria (kandung kemih), dan pemeriksaan darah lagi. Tapi kali ini pemeriksaan darahnya lebih fokus ke fungsi hati dan ginjal. Tanggal 11 Oktober 2019 Hari ini aku dijadwalkan untuk pengambilan darah dan usg vesica urinaria. Saat itu aku udah ngempet pipis banget dan nggak boleh pipis sampai selesai di usg, sungguh bikin keringet dingin wkwkkwkw. Akhirnya tiba giliranku untuk di usg oleh dokter radiologi. Aku menceritakan keluhanku dan lagi-lagi aku menekankan kandung kemihku yang seperti balon. Lalu dokter memeriksa dan tidak menemukan hal yang ganjil dengan kandung kemihku. Bahkan bagian kandunganku juga sekalian di usg dan tidak ada masalah. Harus ku akui dokter ini sangat telaten dan tidak puas hanya melihat seperti itu, apalagi aku memiliki keluhan. Dokter radiologi ini kemudian menggerakkan alat usg menuju samping tubuhku dan terkejut karena bagian samping kananku ada cukup banyak cairan di perut. Akhirnya dokter memeriksa bagian perutku dengan seksama baik liver, prankreas dan organ-organ lain. Bahkan dokter radiologi sampai mengarahkan alat usg nya sampai tepat dibawah diafragmaku bagian kanan. Dan menemukan lebih banyak lagi cairan di pleuraku. Saat itu aku sedih sekali, aku bingung apa yang terjadi padaku. Aku hampir saja menangis tapi tidak jadi karena di temani adekku wkkkwkw. Basic kesehatan membuatku sedikit parno. Mengingat di tubuhku sekarang ada asites (cairan di perut) dan cairan di pleura (selaput paru-paru). Dokter radiologi menduga apa mungkin aku ada masalah dengan metabolik atau aku hipoalbumin. Karena untuk semua organ dalam perut semua normal. Oh ya, semua aku berobat mandiri ya. Dan saat pemeriksaan darah untuk fungsi hati dan ginjal ini harganya cukup menguras kantong. Sekitar 300 ribuan untuk pemeriksaan darahnya dan 115 ribu untuk usgnya belum termasuk biaya dokter. Untuk usg nya tidak jadi usg vesica urinaria, tapi malah jadi usg abdomen. Tanggal 12 Oktober 2019 Aku kembali ke dokter spesialis penyakit dalam. Dan dokter tersebut pun tekejut juga dengan hasil pemeriksaan usg ku. Kok bisa ada cairan seperti itu, padahal kondisi liver dan hasil pemeriksan darah untuk fungi hati dan ginjal baik dan normal. Akhirnya dokter menyarankan aku untuk ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan bahwa kandunganku baik-baik saja dan tidak ada masalah. Atas saran dari dokter spesialis penyakit dalam akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter kadungan. Tapi kali ini aku berencana mencoba menggunakan BPJS. Sekalian mencoba apa bisa BPJS ku digunakan selain hanya berobat ke puskesmas. Tanggal 14 Oktober 2019 Aku datang ke puskesmas pagi-pagi. Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi denganku. Aku bercerita terdapat asites dan cairan pleura, dan di sarakan dokter spesialis dalam untuk periksa ke dokter kandungan. Akhirnya puskesmas memberikan surat rujukan BPJS. Aku meminta RS yang sama dengan yang kemaren aku periksa. pikirku biar lebih mudah melihat rekam medisnya. Aku di jadwalkan untuk berobat ke dokter spesialis kandungan esok hari. Tanggal 15 Oktober 2019 Karena ini usg kandungan so pasti aku harus minum banyak dan menahan pipis lagi. Dan lagi-lagi sampai keringet dingin wkwkwkkw. Saat usg dokter kandungan langsung cekatan dan berkata tidak ada masalah apa-apa dengan kandungan tapi memang ditemukan ada banyak cairan di perut. Jadi alhamdulillah kandunganku baik-baik saja.  Oh ya karena ini pakai BPJS semua benar-benar tidak bayar, baik dari biaya dokter sampai pemeriksaan usg kandungan. Jadi setelah selesai pemeriksaan aku cuma menumpuk tagihan pemeriksaan di kasir. Dan aku langsung daftar lagi untuk berobat ke dokter spesialis dalam besok hari memakai jalur umum/mandiri. Tanggal 16 Oktober 2019 Aku datang pagi-pagi sekali untuk berobat. Sambil membawa hasil usg kandungan kemaren dan mengeluh mulai 2 hari yang lalu setiap solat waktu gerakan sujud aku mulai batuk tanpa sebab serta tidur menggunakan 3 bantal. Setelah dokter memeriksa hasil usg kandungan, dokter memutuskan untuk merujukku ke RSUD untuk ke poli parunya untuk melihat apa yang bermasalah ada di parunya. Waktu itu aku di tanya apa ini menggunakan BPJS, aku bilang tidak dan tidak apa-apa untuk menggunakan umum. Akhirnya dokter memberikan surat rujukan untuk ke RSUD dan aku diminta kesana selagi sempat dan masih pagi. Agar bisa segera ditangani. Hari ini juga aku langsung menuju RSUD. Saat mendaftar aku baru tau kalo tidak ada poli paru disana. Akhirnya lagi-lagi aku di alihkan ke poli penyakit dalam. Saat bertemu dengan dokternya, sangat koperatif dan cermat. Dokter juga langsung memintaku untuk segera ronsen dada, dan mengatakan saat hasil sudah keluar segera kembali berkonsultasi. Akhirnya setelah hasil sudah ditangan aku segera kembali ke poli. Dokter mengatakan ada banyak sekali cairan di pleuraku. Saat...</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/">Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pada kesempatan kali ini aku tidak akan membahas seputar skincare atau makanan seperti biasanya. Ijinkan aku untuk bercerita tentang pengalaman pribadiku sebagai penyintas pleuritis TB dengan pengobatan 6 bulan lamanya. Sepertinya ini akan menjadi salah satu postingan blog ku yang panjang sekali. Harap maklum yaa, hehehe.</p>
<p>Pada hari ini tanggal 22 April 2021 tepat sudah setahun yang lalu aku selesai pengobatan OAT pleuritis TB. Dan tanggal 24 April 2020 yang lalu, aku resmi dinyatakan sembuh dari penyakit pleuritis TB. Alhamdulillah!</p>
<p>Aku berharap dengan adanya cerita di blog ini, kalian bisa mendapatkan informasi yang bermanfaat dan bisa mengubah stigma tentang penyakit TBC, sehingga tidak perlu menjauhi/ mengucilkan penderita serta menganggap penyakit TBC sebagai penyakit aib. Buat yang sedang mengalami penyakit yang sama tetap semangat dalam pengobatan dan jangan putus obat ya! Insha Allah bisa sembuh kok :).</p>
<p>Sebelum aku mulai menceritakan pengalamanku, aku akan sedikit memberi info terkait TBC yang mungkin sekiranya bisa memberi wawasan mendasar untuk kalian. </p>
<h2>TBC (Tuberkulosis)</h2>
<p>Penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri <em>mycobacterium tuberculosis</em>. Kebanyakan dari kita mengetahui kalau penyakit TBC menyerang organ paru-paru, dengan muncul gejala batuk yang berlangsung lama (lebih dari 3 minggu) biasanya disertai dahak dan terkadang mengeluarkan darah. Namun faktanya bakteri TBC bisa menyerang bagian tubuh lainnya seperti kulit, kelenjar getah bening, tulang, usus, selaput rongga perut (peritonium), selaput paru-paru (pleura), otak, atau organ yang lainnya.</p>
<p>Infeksi TBC juga terbagi menjadi TBC aktif dan TBC laten. Dimana TBC aktif dapat menularkan orang lain melalui percikan air liur atau droplet dengan gejala berupa batuk, sedangkan TBC laten/ tb non aktif tanpa gejala apapun sehingga tidak berpotensi menularkan bakterinya kepada orang lain. Dalam kondisi TB laten bakteri sedang dalam keadaan tertidur dan bisa berlangsung sampai bertahun-tahun. Kalau penasaran dengan TB laten bisa baca disini ya <a href="https://hellosehat.com/pernapasan/tbc/tb-laten/">waspadai TB laten.</a></p>
<p>Perlu diketahui juga, TBC yang menyerang paru disebut TB paru sedangkan TBC yang menyerang organ lain atau di luar paru-paru di sebut TB ekstra paru. Untuk lebih lengkapnya bisa baca disini ya <a href="https://hellosehat.com/pernapasan/tbc/tb-ekstra-paru/">TB ekstra paru</a> atau <a href="https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-1324661/liarnya-tbc-di-luar-paru-paru">TB di luar paru-paru</a></p>
<p>Perlu diketahui bahwa saat ini TBC masih termasuk penyakit menular dan mematikan nomer 1 di dunia. Tapi jangan khawatir, TBC bisa di sembuhkan kok karena ada obatnya! Kalo informasi seputar TBC masih kurang lengkap, kalian bisa baca disini ya <a href="https://www.alodokter.com/tuberkulosis">tuberkulosis.</a></p>
<p>Oke, sekarang langsung aja ya aku cerita pengalamanku sebagai penyintas pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites. Gejala apa saja yang aku alami dan perjalanan proses yang aku tempuh sehingga bisa di tegakkan aku menderita sakit ini serta pengobatan yang kuterima sekaligus nanti aku juga bakalan cerita tipis-tipis pengalamanku menggunakan BPJS dari yang sebelumnya periksa jalur umum/ mandiri. Yuk langsung aja ku mulai ya.</p>
<h2>Awal mula terjadinya</h2>
<p>Sekitar bulan September tahun 2019, tengah bulan aku mengalami demam yang cukup tinggi. Waktu itu suhu sampai 38-39 derajat celsius. Dan berlangsung sekitar 2 mingguan lebih. Demam muncul saat siang menuju sore hari. Saat pagi sampai siang tampak baik-baik saja. Tidak ada gejala batuk, atau yang lain, hanya demam saja. Saat demam meningkat aku mengkonsumsi obat penurun panas sanmol, lalu turun setelahnya begitu terus ritmenya.</p>
<p>Tidak ada aku kepikiran aku bakalan sakit ini. Soalnya sebelum demam dimulai aku makan baso aci. Aku ingat betul saat itu. Sehabis makan aku malah demam. Aku pikir aku salah makan hehhee. Waktu itu demamku tidak hampir setiap hari ya. Ada jeda 1-2 hari aku sembuh dan baik-baik saja. Tapi kalo di hitung saat aku demam ya sekitar 2 mingguan.</p>
<p>Karena tidak tahan lagi dengan panas tubuh yang naik turun, serta ketakutanku jangan-jangan aku tipes ni, atau jangan-jangan aku demam berdarah ni. Ada keparnoan sendiri karena dulu pernah sempat di rawat inap akibat demam berdarah yang trombositnya waktu itu susah banget buat balik normal. Akhirnya aku memutuskan ke puskesmas.</p>
<h2>Tanggal 26 September 2019</h2>
<p>Akhirnya aku pagi ini memutuskan pergi ke puskesmas karena sudah frustasi dengan demam yang tak kunjung sembuh. Seperti biasa saat pagi kondisi badanku membaik tidak demam sehingga saat di puskesmas terlihat baik-baik saja. </p>
<h3>Puskesmas</h3>
<p>Aku menyampaikan keluhan yang ku alami di puskesmas. Dan dokter hanya menanggapi santai, mewawancara seperti biasa saat berobat ke puskesmas tanpa ada pemeriksaan fisik apa-apa.  Dokter puskesmas kemudian memintaku untuk di cek darah lengkap dan lain-lain di puskesmas tersebut. Kebetulan puskesmas ini puskesmas besar, jadi tersedia laboratoriumnya.</p>
<p>Sehabis selesai pengambilan darah dan menunggu sekitar setengah jam- satu jam aku kembali lagi ke ruangan dokter puskesmas. Disana aku di jelaskan kalau aku baik-baik saja dari hasil pemeriksaan darah, hanya mengalami anemia. Saat aku di tanya apa masih ada obat penurun panas di rumah, aku jawab masih ada. Lalu di sarankan untuk meminum lagi jika kambuh demamnya.</p>
<p>Saat itu aku agak kaget, karena demamku sudah selama 2 minggu tapi kenapa dokter hanya memberi saran seperti itu. Tanpa memintaku untuk segera kembali ke puskesmas atau ke RS terdekat jika demamku tidak sembuh-sembuh untuk dilakukan pemeriksaan lanjutan. Setelah itu kemudian aku disuruh balik ke rumah. Aku pulang dengan penuh tanda tanya.</p>
<p>Jujur saat itu aku agak kecewa saat pergi ke puskesmas. Karena aku tidak benar-benar mendapatkan informasi apa yang terjadi dengan diriku ini. Dan aku juga tidak dibawakan obat apa-apa dari puskesmas. Hanya diminta untuk meminum obat penurun panas lagi jika kambuh demamnya.</p>
<p>Dan benar saja, saat waktu menunjukkan pukul 14.00 badanku kembali demam, suhu waktu itu 38 derajat. Karena aku sudah cukup lelah dengan hanya mengandalkan obat penurun panas akhirnya aku memutuskan berobat mandiri ke rumah sakit swasta dekat rumah. </p>
<h3>Rumah sakit </h3>
<p>Di rumah sakit untung saja ada poli sore dokter umum. Aku menceritakan keluhanku kepada dokter, kemudian aku di periksa fisik dan di minta untuk pemeriksaan darah (darah lengkap dan tes widal untuk pemeriksaan tipes). Saat hasil pemeriksaan darah sudah ditangan aku kembali berkonsultasi ke dokter. Dan kata dokter hasil tes widal ku menunjukkan aku terkena tipes. Tidak perlu rawat inap, cukup rawat jalan saja tidak apa-apa.</p>
<p>Aku cukup lega saat mengetahui penyebab aku sakit demam ini kenapa. Kemudian aku pulang dibekali dengan obat antibiotik, dan obat demam yang kurasa cukup paten soalnya pake tempat botol kaca.</p>
<p>Aku akhirnya mulai meminum obat yang diberikan dokter secara rutin. Walau rupanya aku masih sempat naik turun lagi demamnya. Akupun sampai <em>hopeless. </em>Obat demam paten yang di kasih sudah mau habis tapi kok belum sembuh-sembuh. Eh rupanya tepat tersisa 3 tablet aku akhirnya sembuh. Akupun senang dan sudah tidak memikirkan lagi apa yang kemaren kualami.</p>
<h2>Tanggal 9 Oktober 2019</h2>
<p>Hanya berselang 13 hari dari aku berobat aku mulai merasa ada yang beda dengan perutku. Seperti agak membuncit, tapi badanku tetap sama tidak menggendut. Saat aku timbang badan aku juga mengalami penambahan BB dan aku waktu itu senang-senang saja tanpa memikirkan ada hal yang ganjil. Sebenarnya aku udah merasakan ada yang aneh dengan perutku ini. Apalagi saat aku buang air kecil dalam posisi jongkok. Perutku seperti mengembang macam ibu hamil dan lebih menonjol lagi di bagian kandung kemihnya. Aku tidak berpikir macam-macam, kupikir hanya karena kebanyakan makan hahahaa.</p>
<p>Sampailah saat mamakku melihat ada yang berbeda dengan perutku. Mamakku mengatakan ada yang tidak wajar dengan bentuk perutku. Mamakku takut aku mengalami sakit liver atau hati. Mengingat nenekku dulu ada masalah dengan livernya. Aku bilang tidak ada apa-apa, aku baik-baik saja. Aku berkata seperti itu karena memang tidak ada keluhan apa-apa hanya merasa buncit saja. Namun untuk membuat mamakku merasa lega akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter spesialis di rumah sakit dekat rumah yang sebelumnya aku periksa disana.</p>
<h2>Tanggal 10 Oktober 2019</h2>
<p>Aku kembali berobat mandiri di rumah sakit dekat rumahku. Kali ini aku langsung menembak untuk berobat ke dokter spesialis penyakit dalam. Saat aku bertemu dokter aku mengeluhkan keluhanku terkait perutku yang sedikit membuncit. Tapi saat itu aku lebih menekankan kalau kadung kemihku seperti balon mengambang saat aku jongkok berkemih. Lalu dokter pun melakukan pemeriksaan fisik, kemudian menjadwalkan aku untuk dilakukan pemeriksaan usg vesica urinaria (kandung kemih), dan pemeriksaan darah lagi. Tapi kali ini pemeriksaan darahnya lebih fokus ke fungsi hati dan ginjal.</p>
<h2>Tanggal 11 Oktober 2019</h2>
<p>Hari ini aku dijadwalkan untuk pengambilan darah dan usg vesica urinaria. Saat itu aku udah ngempet pipis banget dan nggak boleh pipis sampai selesai di usg, sungguh bikin keringet dingin wkwkkwkw.</p>
<p>Akhirnya tiba giliranku untuk di usg oleh dokter radiologi. Aku menceritakan keluhanku dan lagi-lagi aku menekankan kandung kemihku yang seperti balon. Lalu dokter memeriksa dan tidak menemukan hal yang ganjil dengan kandung kemihku. Bahkan bagian kandunganku juga sekalian di usg dan tidak ada masalah. Harus ku akui dokter ini sangat telaten dan tidak puas hanya melihat seperti itu, apalagi aku memiliki keluhan.</p>
<p>Dokter radiologi ini kemudian menggerakkan alat usg menuju samping tubuhku dan terkejut karena bagian samping kananku ada cukup banyak cairan di perut. Akhirnya dokter memeriksa bagian perutku dengan seksama baik liver, prankreas dan organ-organ lain. Bahkan dokter radiologi sampai mengarahkan alat usg nya sampai tepat dibawah diafragmaku bagian kanan. Dan menemukan lebih banyak lagi cairan di pleuraku.</p>
<p>Saat itu aku sedih sekali, aku bingung apa yang terjadi padaku. Aku hampir saja menangis tapi tidak jadi karena di temani adekku wkkkwkw. <em>Basic</em> kesehatan membuatku sedikit parno. Mengingat di tubuhku sekarang ada asites (cairan di perut) dan cairan di pleura (selaput paru-paru).</p>
<p>Dokter radiologi menduga apa mungkin aku ada masalah dengan metabolik atau aku hipoalbumin. Karena untuk semua organ dalam perut semua normal.</p>
<p>Oh ya, semua aku berobat mandiri ya. Dan saat pemeriksaan darah untuk fungsi hati dan ginjal ini harganya cukup menguras kantong. Sekitar 300 ribuan untuk pemeriksaan darahnya dan 115 ribu untuk usgnya belum termasuk biaya dokter. Untuk usg nya tidak jadi usg vesica urinaria, tapi malah jadi usg abdomen.</p>
<h2>Tanggal 12 Oktober 2019</h2>
<p>Aku kembali ke dokter spesialis penyakit dalam. Dan dokter tersebut pun tekejut juga dengan hasil pemeriksaan usg ku. Kok bisa ada cairan seperti itu, padahal kondisi liver dan hasil pemeriksan darah untuk fungi hati dan ginjal baik dan normal. Akhirnya dokter menyarankan aku untuk ke dokter spesialis kandungan untuk memastikan bahwa kandunganku baik-baik saja dan tidak ada masalah.</p>
<p>Atas saran dari dokter spesialis penyakit dalam akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter kadungan. Tapi kali ini aku berencana mencoba menggunakan BPJS. Sekalian mencoba apa bisa BPJS ku digunakan selain hanya berobat ke puskesmas.</p>
<h2>Tanggal 14 Oktober 2019</h2>
<p>Aku datang ke puskesmas pagi-pagi. Kemudian aku menceritakan apa yang terjadi denganku. Aku bercerita terdapat asites dan cairan pleura, dan di sarakan dokter spesialis dalam untuk periksa ke dokter kandungan.</p>
<p>Akhirnya puskesmas memberikan surat rujukan BPJS. Aku meminta RS yang sama dengan yang kemaren aku periksa. pikirku biar lebih mudah melihat rekam medisnya. Aku di jadwalkan untuk berobat ke dokter spesialis kandungan esok hari.</p>
<h2>Tanggal 15 Oktober 2019</h2>
<p>Karena ini usg kandungan<em> so</em> pasti aku harus minum banyak dan menahan pipis lagi. Dan lagi-lagi sampai keringet dingin wkwkwkkw.</p>
<p>Saat usg dokter kandungan langsung cekatan dan berkata tidak ada masalah apa-apa dengan kandungan tapi memang ditemukan ada banyak cairan di perut. Jadi alhamdulillah kandunganku baik-baik saja. </p>
<p>Oh ya karena ini pakai BPJS semua benar-benar tidak bayar, baik dari biaya dokter sampai pemeriksaan usg kandungan. Jadi setelah selesai pemeriksaan aku cuma menumpuk tagihan pemeriksaan di kasir. Dan aku langsung daftar lagi untuk berobat ke dokter spesialis dalam besok hari memakai jalur umum/mandiri.</p>
<h2>Tanggal 16 Oktober 2019</h2>
<p>Aku datang pagi-pagi sekali untuk berobat. Sambil membawa hasil usg kandungan kemaren dan mengeluh mulai 2 hari yang lalu setiap solat waktu gerakan sujud aku mulai batuk tanpa sebab serta tidur menggunakan 3 bantal. Setelah dokter memeriksa hasil usg kandungan, dokter memutuskan untuk merujukku ke RSUD untuk ke poli parunya untuk melihat apa yang bermasalah ada di parunya. Waktu itu aku di tanya apa ini menggunakan BPJS, aku bilang tidak dan tidak apa-apa untuk menggunakan umum. Akhirnya dokter memberikan surat rujukan untuk ke RSUD dan aku diminta kesana selagi sempat dan masih pagi. Agar bisa segera ditangani.</p>
<p>Hari ini juga aku langsung menuju RSUD. Saat mendaftar aku baru tau kalo tidak ada poli paru disana. Akhirnya lagi-lagi aku di alihkan ke poli penyakit dalam.</p>
<p>Saat bertemu dengan dokternya, sangat koperatif dan cermat. Dokter juga langsung memintaku untuk segera ronsen dada, dan mengatakan saat hasil sudah keluar segera kembali berkonsultasi. Akhirnya setelah hasil sudah ditangan aku segera kembali ke poli. Dokter mengatakan ada banyak sekali cairan di pleuraku. Saat melihat hasil ronsenku aku terkejut. Paru kananku mengecil tidak mengembang. Kira-kira yang nampak 2/3 nya saja. Pantas saja aku mulai merasakan sesak saat tidur tidak di ganjal dengan 3 bantal. Rasa sesaknya juga mulai menyiksa. Seperti ingin di cabut nyawanya wkwkwkw.</p>
<figure id="attachment_596" aria-describedby="caption-attachment-596" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-596 size-medium" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-300x300.jpg" alt="Ronsen toraks di RSUD" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2021/04/20210421_113729-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-596" class="wp-caption-text">Tampak efusi pleura unilateral paru kanan</figcaption></figure>
<p>Akhirnya dokter merujukku ke RSUP. Lagi-lagi dokter bertanya apa menggunakan BPJS, aku jawab tidak dan tidak apa-apa jika menggunakan umum.</p>
<p>Sebagai informasi aku bayar mandiri saat berobat di RSUD. Dan aku terkejut dengan biaya dokternya dan pemeriksaannya dong! Murah sekali sampai aku membatin apa benar ini harga jasa untuk dokter spesialis? Waktu itu aku membayar 100 ribu untuk ronsen dada dan 25 ribu untuk biaya dokter spesialisnya. Cukup sedih dan kasian sih melihat tarif dokternya. Mengingat ini dokter spesialis dan pasiennya banyak banget.</p>
<h2>Tanggal 17 Oktober 2019</h2>
<p>Karena ini di RSUP, pagi-pagi sekali aku sudah berada di rumah sakit. Dan benar saja ramainya bukan main. Di rumah sakit ini terdapat 2 poli untuk paru, ada poli paru infeksi dan non infeksi. Aku mendaftar di poli paru non infeksi. Saat Sudah tiba giliranku aku menceritakan keluh kesahku. Dan dokter langsung cepat tanggap setelah melihat hasil ronsen dadaku yang ku bawa dari RSUD serta hasil pemeriksaan lainnya. Dokter segera melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, dokter juga bertanya kemungkinan-kemungkinan yang menjadi faktor resiko TB.</p>
<p>Dokter langsung menjadwalkan hari itu juga nanti siang sekitar jam 13.00 untuk dilakukan usg paru dan thoracocentesis (pungsi pleura). Pungsi pleura merupakan tindakan invasif dengan memasukkan jarum melalui dinding toraks untuk mengeluarkan cairan dari rongga pleura. Bagi yang penasaran dengan prosedur dan teknik melakukannya bisa baca ini ya <a href="https://www.alomedika.com/tindakan-medis/toraks-dan-kardiovaskular/thoracocentesis">thoracocentesis. </a></p>
<p>Selain itu dokter juga menjadwalkan aku untuk pengambilan sputum dahak. Dokter juga menjelaskan bahwa nanti cairan pleura yang diambil akan di analisis cairan pleuranya serta akan di lakukan pemeriksaan ADA test (Adenosin Deaminase). ADA test merupakan pemeriksaan untuk melihat ada tidaknya bakteri TBC dalam cairan pleura. Bagi yang penasaran dengan ADA test bisa baca jurnal ini ya <a href="https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2822331/">ADA Test (Adenosine Deaminase)</a> atau disini untuk seputar <a href="https://www.portea.com/labs/diagnostic-tests/adenosine-deaminase-test-191/">ADA test.</a> Karena jurnal dan artikelnya bahasa inggris buat kalian yang kurang bisa berbahasa inggris bisa cek sedikit cuplikan disini <a href="https://labmalang.com/produk/ada-test/">ADA test</a>.</p>
<p>Oh ya, lagi-lagi dokter spesialis paru menanyakan apa aku menggunakan BPJS atau tidak. Dokter menanyakan hal ini karena berkaitan dengan biaya pemeriksaan usg paru, biaya tindakan pungsi pleura, alat-alat tindakan pungsi, serta biaya pemeriksaan lab terkait dengan cairan pleura, ADA test dan sputum. Dokter paru bilang harganya lumayan mahal dan aku berkata tidak apa-apa jika harus menggunakan umum/mandiri. Menurutku setidaknya lebih cepat lebih baik cairan ini di eksekusi, agar aku tidak sesak lagi.</p>
<h3>Jam 13.00</h3>
<p>Tiba saatnya aku untuk dilakukan tindakan usg paru dan pungsi pleura. Saat dilakukan usg paru dokter berkata ini cairannya banyak banget mbak, apa tidak sesak. Aku berkata tidak, hanya saja jika tidur harus menggunakan 3 bantal agar terasa nyaman.</p>
<p>Prosedur pungsi pun di mulai. Aku ingat sekali waktu itu menggunakan jarum abocath (jarum infus) ukuran 16G warna abu-abu. Sebagai informasi ukuran jarum infus semakin kecil nominalnya semakin besar jarumnya. Saat di tusuk terasa sakitnya. Jelas saja jarumnya lumayan besar hehehe. Setelah jarum ditusuk dengan arahan usg paru, jarum di arahkan ketempat cairan berada. Kemudian diambil menggunakan spiut 20 ml sebanyak 2 spiut, dan 1 spuit 10 ml. Setelah itu cairan di alirkan ke urine bag dan didapatkan hasil 800 ml lebih dikit. Sedikit informasi, normalnya cairan pleura hanya 10 ml saja.</p>
<h3>Selama proses tindakan dan setelahnya</h3>
<p>Dokter paru bertanya apa aku sesak atau tidak selama tindakan. Jika aku mengalami hal tersebut maka prosedur akan di hentikan. Aku tidak mengalami hal itu selama prosedur. Dokter berkata bahwa cairan ini kemungkinan tidak akan diambil semuanya maksimal 1 liter saja. Jadi jika ada sisa dan belum habis ya disisakan saja. Dokter memprediksi kemungkinan ada sekilar 1,2-1,5 liter cairan dalam tubuhku, mengingat cairan juga terdapat pada perutku. </p>
<p>Untuk asites tidak di lakukan tindakan apa-apa ya. Hal ini untuk meminimalisir terjadinya resiko infeksi, dikarenakan bagian perut terlalu banyak organ-organ.</p>
<p>Setelah tindakan yang kurasakan terasa sengkrang-sengkrang dan nyeri pada luka tusukan. Oh ya, aku sehabis dilakukan tindakan juga langsung ke laboratorium untuk meminta botol sputum. Disana di jelaskan prosedur pengambilan sputumnya. Aku dapat 2 botol, 1 botol untuk dahak sebelum tidur malam, dan 1 botol lagi untuk dahak setelah bangun tidur. Dikarenakan aku tidak mengalami batuk berdahak jadi dokter memberikan aku obat pengencer dahak untuk membantu aku dalam proses pengumpulan sputum, obat nyeri dan obat demam untuk antisipasi jika aku mengalami demam. Dokter berkata nanti konsul lagi jika semua hasil pemeriksaan sudah keluar.</p>
<h3>Biaya</h3>
<p>Untuk terkait biaya karena aku bayar mandiri, pemeriksaan hari ini menghabiskan 930 ribuan untuk pemeriksaan lab ADA test, sputum, dan analisis cairan pleura. Alat-alat pungsi seharga 51 ribuan. Untuk tindakan usg paru dan pungsi pleura 320 ribuan. Serta 120 ribuan untuk pemeriksan ke dokter spesialis paru.</p>
<h2>Lanjut ke <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/">part 2</a> ya</h2>
<p>Dikarenakan ni ceritanya semakin panjang, maka aku putuskan untuk lanjut ke <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites-part-2/">part 2</a> aja ya. </p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/">Pengalaman pleuritis TB dengan efusi pleura dan asites</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://istapuspit.com/2021/04/22/pengalaman-pleuritis-tb-dengan-efusi-pleura-dan-asites/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>September Tahun 2020, tahun terberat, Covid-19 Merenggut Nyawa Bapakku Begitu Cepat</title>
		<link>http://istapuspit.com/2020/12/31/pengalaman-virus-covid-19-kehilangan-keluarga/</link>
					<comments>http://istapuspit.com/2020/12/31/pengalaman-virus-covid-19-kehilangan-keluarga/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[istapuspit]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2020 13:01:06 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Lain-Lain]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[Covid-19]]></category>
		<category><![CDATA[Covid19]]></category>
		<category><![CDATA[Kehilangan]]></category>
		<category><![CDATA[Pengalaman]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://istapuspit.com/?p=494</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tidak terasa tahun 2020 akan berakhir. Tahun ini menjadi tahun yang berat untuk semua orang tidak terkecuali aku. Tahun ini dunia di hebohkan dengan adanya pandemi virus corona. Karena wabah virus corona ini banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya termasuk aku. Aku kehilangan bapakku yang sangat ku cintai di tahun 2020 ini. Di penghujung tahun 2020 ini izinkan aku untuk bercerita hal yang paling membuatku sedih selama aku hidup. Hal terberat yang ku alami sepanjang usiaku. Kepergian bapakku cukup membuatku kaget. Begitu singkat dan sangat cepat terjadi sehingga akupun tidak sempat berpamitan dengannya. Awal Mulanya Gejala Hari itu aku ingat betul tanggal berapa bapakku mulai merasakan gejala. Tepat pada tanggal 25 Agustus 2020 bapakku mulai merasakan meriang, dan saat di cek suhunya memang benar suhu tubuh bapakku saat itu 37.3 derajat celsius. Tidak ada gejala lain yang di rasakan bapakku saat itu. Karena suhunya agak tinggi kami di rumah memberikan obat sunmol untuk menurunkan panasnya. Ternyata obat sunmol tidak memberi pengaruh yang banyak. Walau sudah kami berikan 4 kali dalam sehari per 6 jam kondisi panas bapakku tidak menurun, seperti siklus naik turun saja. Saat minum obat turun, kemudian kembali naik. Pada tanggal 27 Agustus 2020 suhu bapakku sudah memasuki angka 37.8 derajat celsius dengan munculnya gejala pegal- pegal dan nyeri otot. Napsu makan juga sudah berkurang banyak. Bapakku sudah tidak napsu makan sama sekali. Bahkan untuk pertama kalinya bapakku makan bubur sebagai menu makan sehari-harinya. Padahal aku tau betul bapakku bukan orang yang bakalan makan bubur sesakit apapun dia. Saat melihat kondisi bapakku yang berbeda dari biasanya aku menjadi semakin cemas. Apa bapakku tertular virus corona? Mengingat daerah rumahku memang sedang ada cluster soto lamongan dan bapakku memang termasuk rajin untuk pergi ke masjid di dekat rumah. Untuk cluster soto lamongan sendiri sekitar 16 orang sedang terkena dan lagi isolasi mandiri bersama di balai RW. Tanggal 28 Agustus 2020 demam bapakku semakin meningkat. Suhunya sudah mencapai angka 38 derajat celsius. Masih dengan pegal-pegal dan nyeri otot. Matanya pun mulai memerah. Wajahnya juga merah sekali seperti tomat. Napsu makan semakin berkurang. Bubur yang di berikan mamakku mulai tidak habis dimakan. Kondisi Tidak Mengalami Perubahan Tanggal 29 Agustus 2020 demam bapakku semakin meningkat, suhu sudah mencapai 38.5 derajat celsius. Dan tetap sama, suhu menurun saat diberikan obat penurun panas namun kembali naik lagi. Sekarang gejala yang di alami bapakku bukan hanya demam, pegal-pegal dan nyeri otot, tapi mulai muncul napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Saat aku bertanya apa sesak nafasnya pak? Bapakku berkata tidak dan aku percaya pada ucapannya. Padahal kalo di lihat nafas bapakku sudah engap. Demam bapakku tidak kunjung turun. Seperti berita yang beredar, salah satu gejala terkena virus covid-19 adalah demam yang tinggi. Dan kondisi demam bapakku sampai tanggal 31 Agustus 2020 semakin tinggi. Sudah sampai 39.5 derajat celsius. Walau minum obat pun suhu turun tidak bertahan lama. Oh ya, bukannya aku sekeluarga tidak mau membawa bapakku ke klinik/ rumah sakit. Tapi memang bapakku yang selalu menolak dan tidak mau di bawa ke dokter. Berharap akan sembuh sendiri. Namun karena tidak kunjung membaik, maka aku dan mamakku memutuskan untuk mambawa bapakku berobat esok hari. Tanggal 1 September 2020 Hari itu kami langsung pergi ke klinik. Benar saja, dokter di klinik curiga takutnya bapakku terkena virus corona. Dikarenakan sakit demam yang tak kunjung sembuh disertai nyeri otot. Dokter pun langsung memberi rujukkan ke rumah sakit. Hari itu juga kami langsung pergi ke rumah sakit begitu mendapatkan rujukkan dari dokter klinik. Sesampainya di rumah sakit bapakku langsung di arahkan menuju ke poli klinik khusus covid di rumah sakit tersebut. Tak begitu lama bapakku di periksa dokter dan diberikan beberapa pertanyaan. Mengingat kami tinggal di daerah cluster soto lamongan. Bapakku bercerita bahwa tidak bertemu sama sekali dengan penderita cluster lamongan. Hanya saja ternyata bapakku sempat bertemu sebentar dengan takmir mesjid yang rupanya takmir tersebut sempat bertemu dengan suami dari penderita covid-19 cluster soto lamongan (yang rupanya setelah di tracking swab pcr juga positif terkena covid-19). Pertemuan itu sekitar kurang lebih seminggu yang lalu. Setelah selesai bertemu dengan dokter, dokter menyarankan untuk tes darah lengkap dan ronsen dada. Dokter pun mengatakan agar segera kembali membawa hasilnya nanti untuk berkonsultasi. Setelah itu, kami pun langsung bergegas untuk melakukan pemeriksaan. Setelah semua pemeriksaan selesai, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mengetahui hasil tes darah dan ronsen dada. Kamipun kembali untuk mengambil  hasil setelah 1 jam. Karena begitu penasaran aku membuka hasil dari pemeriksaan. Hasil darah menunjukkan bahwa baik-baik saja tidak ada masalah. Tapi begitu membuka hasil ronsen aku langsung lemas. Bagaimana tidak disitu tertuliskan kesan hasil menunjukkan bronkopneumonia.  Ha?! Aku tidak percaya! Bapakku kena pneumonia? Kok sudah sampe kena peradangan di bronkus dan alveolusnya? Kok bisa? Aku masih bertanya-tanya sendiri. Mengingat bulan Maret 2020 kemaren, bapakku sempat menjalani operasi prostat. Dan syarat operasi saat itu juga harus melihat hasil ronsen. Dan hasil ronsen bapakku baik tidak ada masalah sama sekali. Tapi kenapa sekarang parunya bisa sampai kena bronkopneumonia? Konsultasi Ke Dokter Akhirnya kami kembali ke dokter untuk konsultasi. Begitu melihat hasil bapakku yang kurang baik. Dokter menyarankan untuk di lakukan rapid tes. Waktu itu rapid tes belum beda-beda seperti sekarang. Rapid tes masih menggunakan rapid tes antibodi.  Dokter juga meminta bapakku untuk di rawat di rumah sakit. Mengingat usia yang sudah tidak muda lagi. Usia bapakku sudah 60 tahun dan sedang mengalami bronkopneumonia. Sehingga dokter menyarankan untuk di rawat inap. Setelah itu kami pindah ke IGD untuk di lakukannya rapid tes. Hasil rapid tes bapakku saat itu jadi dalam waktu 3 jam. Itu sudah termasuk cepat. Setelah 3 jam menunggu, hasil rapid tes sudah jadi. Dan lagi-lagi, kami kaget dengan hasilnya. Dimana disitu menunjukkan hasil IgM yang  mengalami peningkatan/ reaktif.  Dokter langsung mengatakan agar bapakku di rawat inap dan di masukkan ke ruang isolasi khusus covid malam itu juga. Untuk berjaga-jaga semisal memang nanti dinyatakan positif setelah swab. Tapi bila hasilnya negatif maka bapakku akan di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Setelah itu dokter meminta kami (aku, mamakku dan adekku) untuk dilakukan rapid tes. Untuk melihat apakah kami juga ada yang mengalami reaktif. Kami pun segera melakukan rapid tes, dan hasil muncul 3 jam kemudian. Alhamdulillah hasil kami bertiga semuanya non reaktif. Baik dari IgM maupun IgG. Malam itu tanggal 1 September 2020 bapakku akhirnya di rawat inap di isolasi covid yang belum terkonfirmasi. Dan di jadwalkan untuk di swab pcr besok harinya tanggal 2 September 2020. Tanggal 2 September 2020 Saat bapakku di rawat inap, mamakku menemani bapakku. Untuk membantu bapakku dalam hal makan dan lain-lain. Hari ini bapakku di rencanakan untuk di lakukan swab pcr. Kata mamakku saat itu kondisi bapakku semakin sesak. Tapi bapakku masih belum mengakuinya. Tanggal 3 September 2020 Hari ini bapakku kembali di jadwalkan untuk di swab pcr dan ronsen ulang. Mamakku juga sempat memberi kabar bahwa bapakku tidak ingin menonton tv atau mendengar suara-suara. Katanya suara terdengar begitu bising di telinga bapakku. Tepat sore hari selepas maghrib mamakku berkata bahwa hasil swab bapakku sudah jadi. Dan hasilnya positif, sehingga bapakku harus pindah ke ruang rawat inap isolasi khusus covid. Keadaan bapakku juga semakin sesak. Tapi bapakku masih belum mengakuinya. Untuk makan bapakku sudah lebih bersemangat. Ada keinginan untuk sembuh. Tanggal 4 September 2020 Dini hari sekitar jam 3 pagi bapakku terlihat begitu sesak, sehingga mamakku segera memanggil perawat untuk meminta bantuan. Kata mamakku waktu itu bapakku nafasnya sudah sangat tersengal-sengal, seperti orang yang sudah mau pergi saja. Akhirnya bapakku mengakui kalo nafasnya terasa berat sehingga diberikan oksigen menggunakan nasal kanul 4 l/menit. Karena kondisi bapakku yang semakin kurang baik, maka selepas maghrib perawat memindahkan bapakku ke kamar yang berseberangan dengan nurse station. Hal ini dilakukan agar bapakku mudah di awasi. Saat siang hari nafas bapakku makin terasa sesak, sehingga dokter mengganti pemberian oksigen tidak menggunakan nasal kanul lagi, melainkan meggunakan masker RM 12 l/menit. Hasil pemeriksaan darah juga menunjukkan kurang baik, darah bapakku mengalami penggumpalan sehingga harus diberi obat untuk membantu memperlambat proses penggumpalan darahnya. Hasil ronsen juga sudah jadi, hasil menunjukkan perburukan pada kedua paru-paru bapakku. Saat itu mamakku di beri tahu oleh dokter semisal ada perburukkan kemungkinan akan di pasang ventilator. Dan kami sekeluarga menyetujuinya semisal hal itu terjadi. Oh ya, karena bapakku sudah positif terkonfirmasi covid-19 maka pihak rumah sakit menghubungi dinas kesehatan, lalu dinas kesehatan menghubungi ke puskesmas daerah rumah kami. Aku, adekku dan mamakku terkena tracking untuk di lakukan pemeriksaan pcr di puskesmas. Pemeriksaan di jadwalkan di hari senin tanggal 7 September 2020. Tanggal 5 September 2020 Hari ini kata mamakku, bapakku lebih semangat makannya. Aku dan adekku pun senang mendengarnya. Kami (aku dan adekku) telponan dengan bapak dan mamakku. Bertanya kabar dan kami sempat menangis. Aku ingat betul saat itu bapakku berkata agar kami tidak usah menangis. Kami harus kuat menghadapi cobaan ini. Agar bisa naik kelas. Lalu bapakku juga berkata, tidak usah sedih bapak nanti pulang.  Selepas telponan mamakku bercerita di chat habis membantu bapakku buang air besar. Kata mamakku kotoran bapakku begitu banyak. Saat aku membaca chat mamakku, aku merasa cemas. Kok tumben bapak buang air besar sebanyak itu, biasanya tidak begitu (bapakku pernah cerita kalo jarang sekali bisa buang air besar banyak). Feelingku tidak enak sekali, apa jangan-jangan ini pertanda. Tapi aku berusaha menampik hal itu, kemudian aku meminta mamakku untuk memfotokan kondisi bapakku hari itu. Betapa terkejutnya aku melihat bapakku yang sedang duduk diatas kasur menggunakan masker oksigen dengan banyak alat disampingnya. Bukan karena peralatan medis yang membuatku kaget, melainkan aura bapakku yang muncul di foto itu. Bapakku terlihat beda. Seperti akan pergi&#8230; Setelah maghrib mamakku mengabariku bahwa bapakku akan di pindah ke icu isolasi. Pikiranku makin kacau. Seburuk itu kah kondisi bapakku? Kata mamakku, bapakku di pindah ke icu isolasi agar bisa lebih intensif di pantau. Tapi kurasa bapakku di pindah kesana karena kondisinya yang memburuk. Tanggal 6 September 2020 Karena bapakku berada di ruang icu isolasi, sehingga mamakku tidak bisa menemaninya. Mamakku berada di kamar penunggu di belakang kasur ruangan bapakku. Mereka terpisahkan oleh dinding dan kaca bertirai. Tirai kaca tersebut hanya dibuka saat maghrib sampai jam 7 malam saja. Selebihnya selalu dalam keadaan tertutup. Saat jam tirai di buka, kami semua langsung bervideo call. Kami senang melihat bapakku yang mulai napsu makan dan melambaikan tangan. Aku seperti melihat ada harapan dan bapakku baik-baik saja. Kondisi bapakku masih sama, masih menggunakan masker oksigen. Tanggal 7 September 2020 Hari ini jadwal kami (aku, adekku dan mamakku) untuk di swab di puskesmas. Aku menjemput mamakku dulu di rumah sakit, baru bersama-sama kami menuju ke puskesmas. Kami di swab tepat pada pukul 12.00 setelah aktivitas kegiatan puskesmas telah selesai. Ini pertama kalinya aku merasakan di swab.  Kesan pertama saat aku di swab tidak sesakit yang ku bayangkan dan orang-orang katakan. Hanya terasa pedas saat sudah selesai di lakukan sampai mata mengeluarkan air mata. Oh ya hari ini bapakku di jadwalkan untuk kembali di ronsen dada. Aku berharap hasilnya baik. Sore haripun kami melakukan video call dan aku sangat senang karna bapakku begitu bersemangat. Tanggal 8 September 2020 Sore hari seperti biasa selepas solat maghrib kami video call seperti kemaren. Aku sangat senang melihat bapakku yang semakin semangat makan. Makanan bapakku juga habis dimakan. Bahkan kata mamakku tadi pagi bapakku meminta roti mocca dan pisang. Aku sangat senang mendengarnya. Bapakku mulai semangat untuk makan. Bapakku juga sangat bersemangat saat video call. Melambaikan tangannya dengan begitu bersemangat. Tanggal 9 September 2020 Hari ini aku mendapatkan kabar dari puskesmas bahwa hasil swab pcr kami sudah keluar. Hasilku dan adekku negatif, tetapi mamakku rupanya positif covid-19. Hah! Cobaan apalagi ini? Kenapa kedua orang tuaku terkena semua. Akhirnya karena mamakku positif maka kami semua harus isolasi mandiri dirumah. Sebelum pulang ke rumah, mamakku melakukan beberapa tes di rumah sakit karena mamakku memiliki penyakit komorbid. Hasil pemeriksaan darah dan ronsen mamakku semua alhamdulillah bagus. Sehingga kami bertiga melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari. Aku sedih, karena berarti bapakku harus berada di rumah sakit sendirian. Benar-benar sendiri karena berada di ruang isolasi, dan itu ruang icu pula. Pihak icu rumah sakit meneleponku dan berkata akan menjaga bapakku selama kami di isolasi. Dan aku meminta tolong untuk menyampaikan kepada bapakku kalo kami semua...</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/12/31/pengalaman-virus-covid-19-kehilangan-keluarga/">September Tahun 2020, tahun terberat, Covid-19 Merenggut Nyawa Bapakku Begitu Cepat</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak terasa tahun 2020 akan berakhir. Tahun ini menjadi tahun yang berat untuk semua orang tidak terkecuali aku. Tahun ini dunia di hebohkan dengan adanya pandemi virus corona. Karena wabah virus corona ini banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya termasuk aku. Aku kehilangan bapakku yang sangat ku cintai di tahun 2020 ini.</p>
<p>Di penghujung tahun 2020 ini izinkan aku untuk bercerita hal yang paling membuatku sedih selama aku hidup. Hal terberat yang ku alami sepanjang usiaku. Kepergian bapakku cukup membuatku kaget. Begitu singkat dan sangat cepat terjadi sehingga akupun tidak sempat berpamitan dengannya.</p>
<h2>Awal Mulanya Gejala</h2>
<p>Hari itu aku ingat betul tanggal berapa bapakku mulai merasakan gejala. Tepat pada tanggal 25 Agustus 2020 bapakku mulai merasakan meriang, dan saat di cek suhunya memang benar suhu tubuh bapakku saat itu 37.3 derajat celsius. Tidak ada gejala lain yang di rasakan bapakku saat itu. Karena suhunya agak tinggi kami di rumah memberikan obat sunmol untuk menurunkan panasnya.</p>
<p>Ternyata obat sunmol tidak memberi pengaruh yang banyak. Walau sudah kami berikan 4 kali dalam sehari per 6 jam kondisi panas bapakku tidak menurun, seperti siklus naik turun saja. Saat minum obat turun, kemudian kembali naik. Pada tanggal 27 Agustus 2020 suhu bapakku sudah memasuki angka 37.8 derajat celsius dengan munculnya gejala pegal- pegal dan nyeri otot. Napsu makan juga sudah berkurang banyak. Bapakku sudah tidak napsu makan sama sekali. Bahkan untuk pertama kalinya bapakku makan bubur sebagai menu makan sehari-harinya. Padahal aku tau betul bapakku bukan orang yang bakalan makan bubur sesakit apapun dia.</p>
<p>Saat melihat kondisi bapakku yang berbeda dari biasanya aku menjadi semakin cemas. Apa bapakku tertular virus corona? Mengingat daerah rumahku memang sedang ada cluster soto lamongan dan bapakku memang termasuk rajin untuk pergi ke masjid di dekat rumah. Untuk cluster soto lamongan sendiri sekitar 16 orang sedang terkena dan lagi isolasi mandiri bersama di balai RW.</p>
<p>Tanggal 28 Agustus 2020 demam bapakku semakin meningkat. Suhunya sudah mencapai angka 38 derajat celsius. Masih dengan pegal-pegal dan nyeri otot. Matanya pun mulai memerah. Wajahnya juga merah sekali seperti tomat. Napsu makan semakin berkurang. Bubur yang di berikan mamakku mulai tidak habis dimakan.</p>
<h2>Kondisi Tidak Mengalami Perubahan</h2>
<p>Tanggal 29 Agustus 2020 demam bapakku semakin meningkat, suhu sudah mencapai 38.5 derajat celsius. Dan tetap sama, suhu menurun saat diberikan obat penurun panas namun kembali naik lagi. Sekarang gejala yang di alami bapakku bukan hanya demam, pegal-pegal dan nyeri otot, tapi mulai muncul napas dengan cepat dan tersengal-sengal. Saat aku bertanya apa sesak nafasnya pak? Bapakku berkata tidak dan aku percaya pada ucapannya. Padahal kalo di lihat nafas bapakku sudah engap.</p>
<p>Demam bapakku tidak kunjung turun. Seperti berita yang beredar, salah satu gejala terkena virus covid-19 adalah demam yang tinggi. Dan kondisi demam bapakku sampai tanggal 31 Agustus 2020 semakin tinggi. Sudah sampai 39.5 derajat celsius. Walau minum obat pun suhu turun tidak bertahan lama.</p>
<p>Oh ya, bukannya aku sekeluarga tidak mau membawa bapakku ke klinik/ rumah sakit. Tapi memang bapakku yang selalu menolak dan tidak mau di bawa ke dokter. Berharap akan sembuh sendiri. Namun karena tidak kunjung membaik, maka aku dan mamakku memutuskan untuk mambawa bapakku berobat esok hari.</p>
<h2>Tanggal 1 September 2020</h2>
<p>Hari itu kami langsung pergi ke klinik. Benar saja, dokter di klinik curiga takutnya bapakku terkena virus corona. Dikarenakan sakit demam yang tak kunjung sembuh disertai nyeri otot. Dokter pun langsung memberi rujukkan ke rumah sakit. Hari itu juga kami langsung pergi ke rumah sakit begitu mendapatkan rujukkan dari dokter klinik.</p>
<p>Sesampainya di rumah sakit bapakku langsung di arahkan menuju ke poli klinik khusus covid di rumah sakit tersebut. Tak begitu lama bapakku di periksa dokter dan diberikan beberapa pertanyaan. Mengingat kami tinggal di daerah cluster soto lamongan. Bapakku bercerita bahwa tidak bertemu sama sekali dengan penderita cluster lamongan. Hanya saja ternyata bapakku sempat bertemu sebentar dengan takmir mesjid yang rupanya takmir tersebut sempat bertemu dengan suami dari penderita covid-19 cluster soto lamongan (yang rupanya setelah di tracking swab pcr juga positif terkena covid-19). Pertemuan itu sekitar kurang lebih seminggu yang lalu.</p>
<p>Setelah selesai bertemu dengan dokter, dokter menyarankan untuk tes darah lengkap dan ronsen dada. Dokter pun mengatakan agar segera kembali membawa hasilnya nanti untuk berkonsultasi. Setelah itu, kami pun langsung bergegas untuk melakukan pemeriksaan. Setelah semua pemeriksaan selesai, dibutuhkan waktu sekitar 1 jam untuk mengetahui hasil tes darah dan ronsen dada.</p>
<p>Kamipun kembali untuk mengambil  hasil setelah 1 jam. Karena begitu penasaran aku membuka hasil dari pemeriksaan. Hasil darah menunjukkan bahwa baik-baik saja tidak ada masalah. Tapi begitu membuka hasil ronsen aku langsung lemas. Bagaimana tidak disitu tertuliskan kesan hasil menunjukkan bronkopneumonia. </p>
<p>Ha?! Aku tidak percaya! Bapakku kena pneumonia? Kok sudah sampe kena peradangan di bronkus dan alveolusnya? Kok bisa? Aku masih bertanya-tanya sendiri. Mengingat bulan Maret 2020 kemaren, bapakku sempat menjalani operasi prostat. Dan syarat operasi saat itu juga harus melihat hasil ronsen. Dan hasil ronsen bapakku baik tidak ada masalah sama sekali. Tapi kenapa sekarang parunya bisa sampai kena bronkopneumonia?</p>
<h2>Konsultasi Ke Dokter</h2>
<p>Akhirnya kami kembali ke dokter untuk konsultasi. Begitu melihat hasil bapakku yang kurang baik. Dokter menyarankan untuk di lakukan rapid tes. Waktu itu rapid tes belum beda-beda seperti sekarang. Rapid tes masih menggunakan rapid tes antibodi. </p>
<p>Dokter juga meminta bapakku untuk di rawat di rumah sakit. Mengingat usia yang sudah tidak muda lagi. Usia bapakku sudah 60 tahun dan sedang mengalami bronkopneumonia. Sehingga dokter menyarankan untuk di rawat inap.</p>
<p>Setelah itu kami pindah ke IGD untuk di lakukannya rapid tes. Hasil rapid tes bapakku saat itu jadi dalam waktu 3 jam. Itu sudah termasuk cepat. Setelah 3 jam menunggu, hasil rapid tes sudah jadi. Dan lagi-lagi, kami kaget dengan hasilnya. Dimana disitu menunjukkan hasil IgM yang  mengalami peningkatan/ reaktif. </p>
<p>Dokter langsung mengatakan agar bapakku di rawat inap dan di masukkan ke ruang isolasi khusus covid malam itu juga. Untuk berjaga-jaga semisal memang nanti dinyatakan positif setelah swab. Tapi bila hasilnya negatif maka bapakku akan di pindahkan ke ruang rawat inap biasa.</p>
<p>Setelah itu dokter meminta kami (aku, mamakku dan adekku) untuk dilakukan rapid tes. Untuk melihat apakah kami juga ada yang mengalami reaktif. Kami pun segera melakukan rapid tes, dan hasil muncul 3 jam kemudian. Alhamdulillah hasil kami bertiga semuanya non reaktif. Baik dari IgM maupun IgG.</p>
<p>Malam itu tanggal 1 September 2020 bapakku akhirnya di rawat inap di isolasi covid yang belum terkonfirmasi. Dan di jadwalkan untuk di swab pcr besok harinya tanggal 2 September 2020.</p>
<h2>Tanggal 2 September 2020</h2>
<p>Saat bapakku di rawat inap, mamakku menemani bapakku. Untuk membantu bapakku dalam hal makan dan lain-lain. Hari ini bapakku di rencanakan untuk di lakukan swab pcr. Kata mamakku saat itu kondisi bapakku semakin sesak. Tapi bapakku masih belum mengakuinya.</p>
<h2>Tanggal 3 September 2020</h2>
<p>Hari ini bapakku kembali di jadwalkan untuk di swab pcr dan ronsen ulang. Mamakku juga sempat memberi kabar bahwa bapakku tidak ingin menonton tv atau mendengar suara-suara. Katanya suara terdengar begitu bising di telinga bapakku.</p>
<p>Tepat sore hari selepas maghrib mamakku berkata bahwa hasil swab bapakku sudah jadi. Dan hasilnya positif, sehingga bapakku harus pindah ke ruang rawat inap isolasi khusus covid. Keadaan bapakku juga semakin sesak. Tapi bapakku masih belum mengakuinya. Untuk makan bapakku sudah lebih bersemangat. Ada keinginan untuk sembuh.</p>
<h2>Tanggal 4 September 2020</h2>
<p>Dini hari sekitar jam 3 pagi bapakku terlihat begitu sesak, sehingga mamakku segera memanggil perawat untuk meminta bantuan. Kata mamakku waktu itu bapakku nafasnya sudah sangat tersengal-sengal, seperti orang yang sudah mau pergi saja. Akhirnya bapakku mengakui kalo nafasnya terasa berat sehingga diberikan oksigen menggunakan nasal kanul 4 l/menit.</p>
<p>Karena kondisi bapakku yang semakin kurang baik, maka selepas maghrib perawat memindahkan bapakku ke kamar yang berseberangan dengan <em>nurse station</em>. Hal ini dilakukan agar bapakku mudah di awasi.</p>
<p>Saat siang hari nafas bapakku makin terasa sesak, sehingga dokter mengganti pemberian oksigen tidak menggunakan nasal kanul lagi, melainkan meggunakan masker RM 12 l/menit. Hasil pemeriksaan darah juga menunjukkan kurang baik, darah bapakku mengalami penggumpalan sehingga harus diberi obat untuk membantu memperlambat proses penggumpalan darahnya. Hasil ronsen juga sudah jadi, hasil menunjukkan perburukan pada kedua paru-paru bapakku.</p>
<p>Saat itu mamakku di beri tahu oleh dokter semisal ada perburukkan kemungkinan akan di pasang ventilator. Dan kami sekeluarga menyetujuinya semisal hal itu terjadi.</p>
<p>Oh ya, karena bapakku sudah positif terkonfirmasi covid-19 maka pihak rumah sakit menghubungi dinas kesehatan, lalu dinas kesehatan menghubungi ke puskesmas daerah rumah kami. Aku, adekku dan mamakku terkena tracking untuk di lakukan pemeriksaan pcr di puskesmas. Pemeriksaan di jadwalkan di hari senin tanggal 7 September 2020.</p>
<h2>Tanggal 5 September 2020</h2>
<p>Hari ini kata mamakku, bapakku lebih semangat makannya. Aku dan adekku pun senang mendengarnya. Kami (aku dan adekku) telponan dengan bapak dan mamakku. Bertanya kabar dan kami sempat menangis. Aku ingat betul saat itu bapakku berkata agar kami tidak usah menangis. Kami harus kuat menghadapi cobaan ini. Agar bisa naik kelas. Lalu bapakku juga berkata, tidak usah sedih bapak nanti pulang. </p>
<p>Selepas telponan mamakku bercerita di chat habis membantu bapakku buang air besar. Kata mamakku kotoran bapakku begitu banyak. Saat aku membaca chat mamakku, aku merasa cemas. Kok tumben bapak buang air besar sebanyak itu, biasanya tidak begitu (bapakku pernah cerita kalo jarang sekali bisa buang air besar banyak). Feelingku tidak enak sekali, apa jangan-jangan ini pertanda. Tapi aku berusaha menampik hal itu, kemudian aku meminta mamakku untuk memfotokan kondisi bapakku hari itu. Betapa terkejutnya aku melihat bapakku yang sedang duduk diatas kasur menggunakan masker oksigen dengan banyak alat disampingnya. Bukan karena peralatan medis yang membuatku kaget, melainkan aura bapakku yang muncul di foto itu. Bapakku terlihat beda. Seperti akan pergi&#8230;</p>
<p>Setelah maghrib mamakku mengabariku bahwa bapakku akan di pindah ke icu isolasi. Pikiranku makin kacau. Seburuk itu kah kondisi bapakku? Kata mamakku, bapakku di pindah ke icu isolasi agar bisa lebih intensif di pantau. Tapi kurasa bapakku di pindah kesana karena kondisinya yang memburuk.</p>
<h2>Tanggal 6 September 2020</h2>
<p>Karena bapakku berada di ruang icu isolasi, sehingga mamakku tidak bisa menemaninya. Mamakku berada di kamar penunggu di belakang kasur ruangan bapakku. Mereka terpisahkan oleh dinding dan kaca bertirai. Tirai kaca tersebut hanya dibuka saat maghrib sampai jam 7 malam saja. Selebihnya selalu dalam keadaan tertutup.</p>
<p>Saat jam tirai di buka, kami semua langsung bervideo call. Kami senang melihat bapakku yang mulai napsu makan dan melambaikan tangan. Aku seperti melihat ada harapan dan bapakku baik-baik saja. Kondisi bapakku masih sama, masih menggunakan masker oksigen.</p>
<h2>Tanggal 7 September 2020</h2>
<p>Hari ini jadwal kami (aku, adekku dan mamakku) untuk di swab di puskesmas. Aku menjemput mamakku dulu di rumah sakit, baru bersama-sama kami menuju ke puskesmas. Kami di swab tepat pada pukul 12.00 setelah aktivitas kegiatan puskesmas telah selesai. Ini pertama kalinya aku merasakan di swab. </p>
<p>Kesan pertama saat aku di swab tidak sesakit yang ku bayangkan dan orang-orang katakan. Hanya terasa pedas saat sudah selesai di lakukan sampai mata mengeluarkan air mata.</p>
<p>Oh ya hari ini bapakku di jadwalkan untuk kembali di ronsen dada. Aku berharap hasilnya baik. Sore haripun kami melakukan video call dan aku sangat senang karna bapakku begitu bersemangat.</p>
<h2>Tanggal 8 September 2020</h2>
<p>Sore hari seperti biasa selepas solat maghrib kami video call seperti kemaren. Aku sangat senang melihat bapakku yang semakin semangat makan. Makanan bapakku juga habis dimakan. Bahkan kata mamakku tadi pagi bapakku meminta roti mocca dan pisang. Aku sangat senang mendengarnya. Bapakku mulai semangat untuk makan. Bapakku juga sangat bersemangat saat video call. Melambaikan tangannya dengan begitu bersemangat.</p>
<h2>Tanggal 9 September 2020</h2>
<p>Hari ini aku mendapatkan kabar dari puskesmas bahwa hasil swab pcr kami sudah keluar. Hasilku dan adekku negatif, tetapi mamakku rupanya positif covid-19. Hah! Cobaan apalagi ini? Kenapa kedua orang tuaku terkena semua.</p>
<p>Akhirnya karena mamakku positif maka kami semua harus isolasi mandiri dirumah. Sebelum pulang ke rumah, mamakku melakukan beberapa tes di rumah sakit karena mamakku memiliki penyakit komorbid. Hasil pemeriksaan darah dan ronsen mamakku semua alhamdulillah bagus. Sehingga kami bertiga melakukan isolasi mandiri di rumah selama 14 hari.</p>
<p>Aku sedih, karena berarti bapakku harus berada di rumah sakit sendirian. Benar-benar sendiri karena berada di ruang isolasi, dan itu ruang icu pula. Pihak icu rumah sakit meneleponku dan berkata akan menjaga bapakku selama kami di isolasi. Dan aku meminta tolong untuk menyampaikan kepada bapakku kalo kami semua harus isolasi mandiri di rumah sehingga tidak ada yang bisa menemani di rumah sakit.</p>
<h2>Tanggal 10 September 2020</h2>
<p>Kami memulai isolasi mandiri di rumah. Karena aku dan adekku tidak positif maka kami bertugas untuk melakukan pekerjaan rumah. Sedangkan mamakku berada di dalam kamar saja. </p>
<p>Hari itu aku merasa sangat kalut. Aku berharap tidak mendengar bunyi telepon dari hapeku. Itu berarti bapakku dalam kondisi baik-baik saja. Dan alhamdulillah hari ini berjalan dengan baik. Aku tidak menerima telpon sama sekali dari pihak rumah sakit.</p>
<h2>Tanggal 11 September 2020</h2>
<p>Hari ini, hari kedua kami isolasi di rumah. Pagi ini aku juga di hubungi via <em>chat</em> oleh pihak icu, bahwa bapakku akan dilakukan pemeriksaan ronsen lagi. Perawat icu juga berkata bahwa bapakku ingin sekali makan roti mocca atau coklat dan pisang.</p>
<p>Aku berkata akan segera membelikannya. Tapi karena masih banyak pekerjaan di rumah aku baru akan pergi pukul 10 pagi. Sampai akhirnya pihak icu menelepon untuk mengingatkanku bahwa bapakku ingin sekali roti mocca dan pisang. Akupun segera pergi untuk membelikan pesanan bapakku.</p>
<p>Malam hari hapeku berbunyi. Perasaanku langsung kalut, aku takut terjadi apa-apa dengan bapakku. Rupanya pihak rumah sakit memintaku untuk datang ke rumah sakit karena ingin meminta tanda tangan surat penolakan pemasangan ventilator.</p>
<p>Sesampainya aku disana aku diberi penjelasan bahwa bapakku menolak dilakukan pemasangan ventilator. Kemudian aku bertanya berapa saturasi bapakku saat itu, dan perawat mengatakan bahwa saturasi bapakku 85 persen. Aku bertanya apa tidak bisa dilakukan pemasangan ventilator saja? Dokter berkata karena pasien masih sadar maka keputusan <em>full </em>masih ditangan pasien. Dan aku menerima keputusan bapakku untuk menolak pemasangan ventilator.</p>
<h2>Tanggal 12 September 2020</h2>
<p>Malam hari pihak rumah sakit kembali memanggilku untuk menandatangani penolakan pemasangan ventilator. Hari ini bapakku kembali diedukasi oleh dokter untuk pemasangan ventilator. Tapi lagi-lagi bapakku menolak untuk di lakukan pemasangan ventilator. Dokter dan perawat memaklumi, karena semua pasien lain di icu pada tidak sadarkan diri. Jadi ada ketakutan dan trauma sendiri untuk bapakku. Perawat juga berkata bapakku semakin sulit tidur. Tidak bisa tidur malam dan hanya bisa tidur saat sore hari. Itupun cuma 2 jam saja.</p>
<p>Saat aku datang ke rumah sakit untuk menandatangani berkas aku kembali bertanya kepada dokter, apa tidak bisa di lakukan pemasangan ventilator saja? Dan lagi-lagi jawabannya tidak bisa selama pasien masih sadar dan menolak dilakukan tindakan. Kecuali saat pasien sudah tidak sadarkan diri maka petugas boleh melakukan pemasangan ventilator. Aku kembali menerima keputusan penolakkan bapakku.</p>
<p>Kemudian aku bertanya seberapa buruk kondisi bapakku saat ini? Kemudian dokter kembali dengan membawa hasil ronsen tanggal 7 September dan 11 September 2020. Hasil itu hanya berjarak 4 hari, tapi gambaran yang terlihat menunjukkan perburukan yang sangat signifikan. Paru-paru bapakku sudah semakin banyak yang putih. Ia putih! bukan sekedar kabut lagi :(.</p>
<figure id="attachment_516" aria-describedby="caption-attachment-516" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-516" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003-75x75.jpg 75w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/12/20210108_114003.jpg 1280w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-516" class="wp-caption-text">Foto Ronsen Toraks Bapakku</figcaption></figure>
<p>Seketika aku lemas melihat hasil ronsen tersebut. Karena aku ada sedikit <em>basic</em> tentang ilmu kesehatan aku langsung tau apa yang terjadi pada bapakku akan sulit disembuhkan. Dan benar saja, dokter mengatakan bahwa paru bapakku sebagian besar sudah terendam cairan dan nanah sehingga parunya tidak bisa mengembang dan mengempis dengan sempurna. Makanya disarankan untuk pemasangan ventilator tapi bapakku menolak untuk dipasang. Akupun langsung menangis saat diberitahu tentang kondisi bapakku.</p>
<p>Aku juga bertanya berapa persentase saturasi bapakku sekarang, dan dokter berkata sekarang sudah mencapai 75 persen. Tapi bapakku masih bisa bernafas sendiri. Sangat sulit dipercaya kata dokter dan perawat. </p>
<h2>Tanggal 13 September 2020</h2>
<p>Hari ini pada pukul 09.00 WIB teleponku kembali berdering. Pihak dokter icu mengatakan bahwa kondisi bapakku sekarang harus di pasang ventilator dan bapakku sudah menyetujuinya. Aku tanya berapa persentasi saturasi bapakku, dan dokter pun berkata hanya 64 persen. Dokter pun memberi waktu aku untuk bersiap-siap ke rumah sakit untuk menandatangani surat persetujuan tindakan. Dokter memberi waktu 30 menit untuk sampai di rumah sakit dan aku menyanggupinya.</p>
<p>Belum ada 30 menit dokter kembali menelepon dan meminta izin untuk dilakukan tindakan sekarang juga, karena kondisi sudah tidak memungkinkan untuk menunggu lagi. Dan aku pun memberikan izin. Padahal posisiku sudah tidak jauh dari rumah sakit.</p>
<p>Sesampainya di rumah sakit prosedur pemasangan ventilator telah selesai. Akupun sudah menandatangani surat persetujuan pemasangan ventilator. Dokter dan perawat tidak bisa menjanjikan kapan ventilator akan di lepas dan apakah pemakaian ventilator ini dapat menyelamatkan nyawa bapakku. Akupun mengerti.</p>
<p>Sebelum aku pulang aku meminta perawat untuk membukakan tirai jendela kamar bapakku. Ada perasaan yang berbeda sehingga aku berkata pada adekku untuk melihat bapakku. Mungkin saja ini kesempatan kami melihat bapakku untuk terakhir kalinya. Saat melihat bapakku yang sudah tertidur dengan dipasang ventilator aku dan adekku menangis. Kami juga menghubungi kakakku menggunakan video call. Agar kakakku juga melihat kondisi bapakku saat itu.</p>
<h2>Malam yang Sendu dan Menyedihkan</h2>
<p>Sore hari hapeku kembali berdering. Firasatku buruk. Dan benar saja, perawat mengatakan kondisi bapakku semakin menurun. Sudah di pasang ventilator dengan menggunakan oksigen 100 persen tetapi tetap tidak mengalami perubahan. Paru bapakku malah mengalami penurunan. Sekarang saturasi oksigen bapakku hanya 40 persen.</p>
<p>Perawat berkata tidak bermaksud mendoakan hal yang lebih buruk, tapi melihat kondisi bapakku sekarang dengan saturasi hanya 40  persen padahal sudah diberikan oksigen 100 persen melalui ventilator, perawat meminta pihak keluarga untuk segera mencarikan dan menyiapkan tanah liang lahat. Karena sewaktu-waktu kondisi bapakku bisa memburuk, dengan kata lain meninggal dunia. Pihak rumah sakit juga memberi tahu batas waktu jenazah (jika bapakku meninggal) sampai dikuburkan hanya 4 jam saja. Sehingga harus dipersiapkan dari sekarang.</p>
<p>Setelah selesai telponan dengan pihak rumah sakit, akupun segera menghubungi pak RT. Aku meminta bantuan pak RT untuk mencarikan liang lahat untuk kemungkinan terburuk jika bapakku tidak bisa di selamatkan. Dan meminta tolong sekali karena pihak rumah sakit sudah berpesan memberikan waktu hanya 4 jam untuk di kuburkan saat jenazah keluar dari rumah sakit. </p>
<p>Aku segera menelepon kakakku untuk memberi kabar tentang kondisi terkini bapakku. Kakakku berkata untuk berdoa dan membaca surat yasin selepas maghrib. Meminta untuk diberikan yang terbaik menurut Allah SWT.</p>
<p>Sehabis maghrib aku melakukan apa yang disuruh kakakku. Tepat setelah aku menyelesaikan membaca surat yasin hapeku kembali berbunyi. Aku di beri kabar untuk segera ke rumah sakit. Bapakku mengalami henti jantung.</p>
<p>Aku langsung mengabari kakakku terkait kondisi bapakku. Aku berkata kepada kakakku untuk segera ke rumah menemani mamakku agar tidak sendirian. Keyakinanku berkata bahwa kemungkinan besar bapakku tidak bisa diselamatkan.</p>
<h2>Jalan Yang Terbaik</h2>
<p>Dan benar saja, sesampainya di rumah sakit tepat pukul 20.25 WIB aku bertemu dengan dokter. Dan dokter berkata bapakku telah meninggal dunia pada pukul 20.20 WIB. Bapakku meninggal karena henti jantung akibat dari paru-paru yang sudah tidak bisa men<em>supply</em> oksigen ke organ jantung. Walaupun dokter sudah melakukan cpr tapi tetap saja bapakku tidak bisa diselamatkan. Aku hanya bisa terdiam. Dan menerima semua yang terjadi. Memang ini jalan yang terbaik yang diberikan Allah SWT. Ini jawaban atas doaku.</p>
<p>Pak RT pun memberi kabar, bahwa warga RW tidak ada yang keberatan bapakku dikuburkan di makam RW. Aku sangat berterima kasih. Warga RT dan RW ku baik sekali karena mau menerima kondisi bapakku.</p>
<h2>Kecemasan Yang Belum Berakhir</h2>
<p>Ternyata masalah belum berakhir. Setelah dinyakatakan bapakku meninggal dunia kami harus segera mencari orang yang mau menguburkan. Pihak rumah sakit mengatakan bahwa tim covid yang bertugas menguburkan telah dibubarkan. Tim covid BPBD provinsi DIY sudah dibubarkan. Jadi kami harus segera mencari sendiri siapa yang mau membantu menguburkan bapakku.</p>
<p>Aku sungguh kalut saat itu sampai tidak bisa mengeluarkan air mata. Siapa yang mau membantu menguburkan bapakku? Apa kalo tidak ada yang mau membantu berarti kami sendiri selaku anaknya yang menguburkannya. Karena jujur saja, karena sakit ini merupakan wabah, masih banyak yang takut untuk membantu penguburannya. Warga di RT ku bahkan ahli kubur pun tidak ada yang mau dan berani untuk membantu penguburan bapakku.</p>
<p>Aku berdoa terus tanpa henti sambil terus berkoordinasi dengan kakakku. Kakakku mengatakan dia mendapatkan kabar dari  warga RT dan RW bahwa tim covid BPBD Kota Jogja masih aktif. Sehingga kakakku dan warga RT ku membantu untuk berkoordinasi dengan pihak BPBD Kota Jogja.</p>
<p>Di rumah sakit aku juga berkoordinasi dengan perawat disana dan mengatakan bahwa tim covid BPBD Kota Jogja masih aktif untuk membantu penguburan. Hanya saja mereka menerima panggilan jika itu langsung di lakukan oleh pihak instansi. Dimana disini yang dimaksud adalah rumah sakit.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB. Kami masih belum mendapatkan kepastian apakah rumah sakit telah menghubungi pihak BPBD Kota Jogja. Saat itu mendadak SVT ku juga ku kumat. Aku dapat merasakan detak jantungku yang begitu cepat. Aku lupa membawa spuit dan obatku. Berkali-kali aku berusaha batuk untuk membantu menurunkan detaknya.</p>
<h2>Akhirnya Ada Jawaban</h2>
<p>Setelah menunggu begitu lama akhirnya aku mendapat kabar dari pihak rumah sakit kalo tim covid BPBD Kota Jogja sudah di hubungi dan bisa membantu penguburan bapakku. Saat itu juga aku langsung mengabari kakakku. Air mataku langsung jatuh tumpah sejadi-jadinya. Ia, aku menangis haru sekali karena akhirnya ada orang-orang yang mau membantu penguburan bapakku. Aku menangis bukan karena sedih. Melainkan karena terharu masih ada orang yang mau membantu.</p>
<p>Aku mendapatkan kabar baik ini tepat pukul 23.00 WIB. Memang sudah sangat malam sekali. Tapi seperti inilah nyatanya proses untuk pemakaman pasien covid-19 jika sudah tidak ada tim yang membantu penguburan dari pihak rumah sakit dan provinsi. </p>
<p>Pihak rumah sakit mengatakan akan serah terima jenazah bapakku ke instansi BPBD Kota Jogja jika liang lahat sudah siap. Aku segera mencari tahu lewat kakakku bagaimana kesiapan liang lahat disana. Ternyata Liang lahatnya belum juga siap. Sudah 2 jam di gali tapi belum selesai juga. Kata kakakku memang lama, dikarenakan ini memakai peti mungkin membutuhkan sekitar 3-4 meter kedalaman liang lahatnya.</p>
<p>Dan benar saja, tepat pukul 01.00 WIB tanggal 14 September 2020 liang lahat bapakku baru siap. Aku segera mengabari pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit langsung menghubungi tim covid BPBD Kota Jogja.</p>
<p>Pukul 01.15 WIB bapakku di jemput oleh tim BPBD Kota Jogja. Aku masih ingat betul peti putih bapakku yang kembali di balut plastik <em>wrapping</em> keluar dari ruang icu menuju lift. Jalanan yang di lewati oleh peti bapakku disemprot dengan disinfektan.</p>
<p>Peti itu kemudian berjalan menuju lokasi parkiran mobil. Rasanya sedih sekali melihat bapakku di dalam peti yang aku sendiri tidak bisa melihat wujudnya. Tapi lagi-lagi aku berpikir, ini yang terbaik untuk bapakku.</p>
<h2>Pemakaman Dilakukan Dini Hari</h2>
<p>Dini hari tepat pada tanggal 14 September 2020 pukul 01.55 WIB bapakku telah dikuburkan. Ia, benar-benar dini hari. Tanpa ada warga yang ikut mendoakan. Doa yang bapakku dapatkan hanya al-fatihah dari orang- orang BPBD Kota Jogja yang membantu menguburkan dan tentu saja anak-anaknya. Untuk mamakku sendiri tentu saja tidak bisa, karena beliau sedang isolasi mandiri di rumah.</p>
<p>Aku tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan mamakku. Sendirian dirumah sedang masa isolasi mandiri, suaminya meninggal dan sedang dikubur namun tidak bisa melihat untuk terakhir kalinya. Pasti mamakku sedih sesedih-sedihnya. Namun aku pun tidak bisa memeluknya.</p>
<p>Setelah pemakaman selesai tepat pukul 02.30 WIB aku kembali ke rumah. Ternyata warga RT tetanggaku pada menunggu aku dan adekku di pos ronda dari kejauhan. Kami hanya mengangguk mengucapkan terima kasih, karena mereka juga setia menunggu kami sampai prosesi pemakaman selesai walau tidak ikut serta.</p>
<p>Sesampai di rumah kamipun langsung mandi dan bersih-bersih. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 WIB. Kami tidak tidur sekalian menunggu subuh datang. Aku, adekku dan mamakku berada di kamar masing-masing sendu menangis dalam sunyi. Ini merupakan malam yang panjang dan menyedihkan bagi kami.</p>
<h2>Sekarang</h2>
<p>Saat ini tepatnya sudah 3 bulan 18 hari bapakku pergi meninggalkan dunia ini. Entah tertular covid-19 dari obrolan bersama takmir mesjid walaupun itu pakai masker atau karena tertular dari aktivitas adzan di masjid lewat mic. Kebetulan memang bapakku suka kali adzan di masjid. Tapi yang ku tahu pasti ini memang sudah jalan yang di atur oleh Allah SWT. Sudah merupakan jalan yang terbaik.</p>
<p>Kalo ada yang menyatakan virus corona hanya konspirasi semata mungkin harus di pikirkan lagi. Mungkin memang benar hanya konspirasi, tapi virus corona juga benar-benar nyata. Sudah banyak yang mengalami terkena virus ini. Ada yang bisa bertahan hidup, tapi tidak sedikit juga yang akhirnya harus meninggal karena virus ini.</p>
<p>Semoga tahun 2020 yang kelam akibat virus corona bisa segera berakhir. Tahun 2021 tahun baru dengan penuh kebahagian, penuh cahaya, dan harapan. Semoga tahun 2021 bisa segera kembali normal.</p>
<p>Semoga tahun 2021 vaksin sudah mulai tersebar keseluruh penjuru. Mau merek apapun vaksinnya. Dan hasil vaksinnya pun juga berpengaruh kearah yang baik sehingga dunia bisa kembali seperti sedia kala.</p>
<p>Aku percaya, apa yang terjadi pada kita dimasa sekarang ini bukan kutukan. Melainkan ujian yang pasti bisa kita lewati untuk naik tingkat. Percayalah bahwa Allah SWT tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya.</p>
<p>Jangan lupa untuk selalu mematuhi prosedur gerakan 5M. Udah pada tau kan kalo sekarang bukan 3M lagi? 5M itu adalah: Memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilisasi dan interaksi serta menjauhi kerumuman. Semangat untuk mematuhi aturannya ya. Agar kita semua bisa terlindungi dan dijauhi dari virus corona. Semoga kita semua sehat-sehat dan selalu dilindungi dan di jauhkan dari virus corona ya.</p>
<h2>Terima Kasih</h2>
<p>Akhir kata, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada tim covid BPBD Kota Jogja yang telah mau membantu menguburkan bapakku. Kepada warga RT 14 dan RW 03 Pandeyan yang sudah mau menerima dan memperbolehkan bapakku untuk di kubur di lingkungan RW. Serta terima kasih kepada kalian yang sudah membaca cerita panjang pengalaman sedihku karena virus corona yang merenggut anggota keluargaku yang kusayangi. Semoga tidak ada lagi yang bersedih karena kehilangan anggota keluarganya. Semoga kalian semua selalu di lindungi dan di beri kesehatan oleh Allah Swt. Aamiin.. Aamiin ya robbal&#8217;almin.</p>
<p>Oh ya, untuk yang bertanya biayanya bagaimana saat di rawat karena covid-19 aku ingin menyampaikan bahwa semua biaya di tanggung oleh pemerintah. Benar-benar gratis. Aku nggak bisa membayangkan sih kalo harus bayar, mengingat harga rawat inap di kamar icu tanpa ventilator saja sudah mahal. Aku hanya membayar biaya peti dan disinfektan saja sebelum jenazah bapakku keluar dari rumah sakit.</p>
<h2>Update</h2>
<p>Sebagai update, mulai september 2020 saat kita terkena covid-19 kebijakannya dari kemenkes setelah melakukan isolasi 14 hari tidak perlu dilakukan swab pcr lagi sampai dinyatakan negatif. Setelah isolasi 14 hari pasien covid-19 sudah dinyatakan sembuh dari covid-19. Dan itu terbukti banget sih sama mamakku. Mamakku melakukan isolasi 14 hari, dan setelahnya tidak dilakukan swab pcr ulang. Karena penasaran 1 bulan setelahnya aku mengajak mamakku untuk swab pcr mandiri dan benar saja, hasilnya mamakku sudah negatif dari virus covid-19, alhamdulillah.</p>
<p>Jadi buat kalian yang mendapatkan kebijakan seperti itu tidak usah bingung, kok tidak di swab pcr ulang sampai dinyatakan negatif. Karena emang sekarang kebijakannya dari kemenkes dan WHO seperti itu. Virus covid-19 sudah tidak menular saat kita selesai melakukan isolasi mandiri selama 14 hari. Semoga informasi ini membantu kalian yang masih bingung ya. Sehat-sehat untuk kita semua!</p>
<p>Terima kasih sudah membaca cerita sedihku. Sampai jumpa lagi di cerita lainnya!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/12/31/pengalaman-virus-covid-19-kehilangan-keluarga/">September Tahun 2020, tahun terberat, Covid-19 Merenggut Nyawa Bapakku Begitu Cepat</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://istapuspit.com/2020/12/31/pengalaman-virus-covid-19-kehilangan-keluarga/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>6</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Apakah Kandungan Dimethicone dan Methicone berbahaya?</title>
		<link>http://istapuspit.com/2020/09/03/apakah-kandungan-dimethicone-dan-methicone-berbahaya/</link>
					<comments>http://istapuspit.com/2020/09/03/apakah-kandungan-dimethicone-dan-methicone-berbahaya/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[istapuspit]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2020 07:51:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[dimethicone]]></category>
		<category><![CDATA[kandungan]]></category>
		<category><![CDATA[Kosmetik]]></category>
		<category><![CDATA[methicone]]></category>
		<category><![CDATA[Skincare]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://istapuspit.com/?p=445</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kalian pernah nggak sih mendengar kandungan dimethicone atau methicone? Mungkin untuk sebagian orang kandungan ini terdengar asing, tapi sebenarnya kandungan ini hampir sering kita temui di beberapa jenis kosmetik atau skincare. Yang mungkin berada dalam kosmetik atau skincare yang kalian gunakan.  Jika kalian mencari tahu di internet, kebanyakan akan memberi informasi bahwa kandungan ini dapat membawa pengaruh buruk bagi kulitmu. Tapi jika memang kandungan ini membawa pengaruh yang buruk, kenapa banyak perusahaan kosmetik dan skincare yang masih menggunakan kandungan ini dalam produk mereka bahkan menggunakan kandungan ini sebagai bahan primer dari produk mereka. Nah, hal inilah yang membuat kandungan ini menjadi topik yang kontroversial. Untuk itu, berikut beberapa informasi terkait dimethicone atau methicone yang dapat menambah pengetahuanmu mengenai aman tidaknya kandungan dimethicone dan methicone dalam kosmetik atau skincaremu. Yuk disimak! Mengenal Dimethicone Dimethicone atau yang dikenal (polydimethylsiloxane) merupakan zat yang berbasis silikon yang berasal dari polymer. Kandungan ini umumnya sering digunakan sebagai bahan dari pelembab. Produk yang mengandung dimethicone dapat memberikan kelembapan pada kulit dan mengisi kerutan serta garis halus pada kulit wajah. Sehingga kandungan ini dapat membuat penampilan wajah tampak sangat halus, lembut dan terasa licin. Hal inilah yang membuat kandungan dimethicone sering digunakan sebagai salah satu bahan skincare atau produk kosmetikmu. Wajah yang terasa lembut saat diraba menunjukkan produk ini tengah bekerja. Karena kelebihannya ini membuat dimethicone memiliki sifat penghalang oklusif pada kulit. Dimethicone dapat menjadi penghalang kulit yang efektif terhadap iritasi, sehingga dapat mencegah agar tidak berkembang menjadi dermatitis dan eksim. Sifat oklusif ini yang membuat kandungan dimethicone dianggap dapat memperburuk jerawat. Dengan adanya penghalang kulit yang dihasilkan oleh dimethicone sehingga dimethicone dianggap tidak hanya memerangkap uap air sehingga mencegah hilangnya uap air saja tetapi bakteri, minyak, sebum serta kotoran lain yang ada di wajah juga terperangkap. Apakah dimethicone aman untuk kulit? Terlepas dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kontra dengan dimethicone, banyak dermatolog yang justu menyarankan dimethicone untuk pasien berjerawat. Hal ini disebabkan, dimethicone sangat berguna dalam merawat kulit berminyak dan berjerawat karena tidak menghalangi pori-pori atau membuat kulit terasa berminyak. Meskipun demikian, dimethicone juga berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit. Dalam beberapa kasus, dimethicone dapat memperburuk jerawat dengan menutupi pori-pori. Selain itu dimethicone juga dapat menyebabkan iritasi kulit, dermatitis kontak alergi seperti ruam merah, gatal dan bersisik. Mengenal Methicone Tidak berbeda dengan dimethicone, methicone juga merupakan zat berbasis silikon yang berasal dari polymer. Methicone biasanya digunakan sebagai agen pengkondisi kulit dan membantu mengubah permukaan kulit pada produk kecantikan, kosmetik dan krim seperti lotion, masker dan produk anti penuaan. Permukaa kulit menjadi lebih halus dan lembut saat diraba. Sama seperti dimethicone, methicone juga memiliki sifat penghalang. Sehingga dapat mencegah minyak dan keringat agar tidak melunturkan riasan wajah. Methicone dan semua polimer silikon memiliki berat molekul yang besar dan melapisi kulit, mencegah keringat dan bahan kimia lainnya menembus lapisan dermis. Hal ini menyebabkan skincare atau produk lainnya yang ingin digunakan setelah produk yang mengandung methicone lebih sulit untuk diserap kulit. Selain itu, methicone juga memunculkan kekhawatiran terhadap keringat dan racun yang tidak dapat keluar. Apakah methicone aman untuk kulit? Sama hal nya dengan dimethicone, methicone juga memiliki potensi untuk terjadinya iritasi. Methicone juga memiliki sifat penghalang, sehingga keringat dan racun sulit untuk keluar. Ketika kita menggunaan produk kecantikan dan kosmetik yang mengandung methicone, kita wajib membersihkan kulit wajah dengan maksimal, agar meminimalisir untuk terjadinya jerawat. Pendapat dan saran Dari ulasan diatas kita sudah memiliki sedikit informasi terkait dengan kandungan dimethicone dan methicone pada produk skincare dan kosmetik. Bagaimana mengenai manfaat dan keburukan dari kandungan tersebut.  Terlepas pro dan kontra kandungan ini, kalian wajib banget untuk selalu care dengan kulit kalian setelah penggunaan produk dengan kandungan tersebut. Apalagi jika jenis kulit kalian termasuk yang sensitif. Sekali lagi produk skincare atau kosmetik itu cocok-cocokkan. Belum tentu di kamu jelek di orang lain juga sama denganmu, begitu pula sebaliknya. Jadi lebih baik untuk selalu aware dengan produk yang kamu gunakan ya. Jika kamu merasa kandungan dimethicone dan methicone dapat merusak kulit kamu, tidak ada salahnya kamu mulai mengeliminasi produk-produk skincare atau kosmetikmu yang mengandung kandungan tersebut. Kamu juga bisa beralih ke produk yang lebih alami. Tetapi jika kamu tidak mengalami masalah dengan kulitmu setelah menggunakan produk yang mengandung bahan tersebut, tidak ada salahnya untuk tetap menggunakannya. Karena para ahli dermatolog juga mengatakan kandungan dimethione dan methicone aman untuk digunakan.</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/09/03/apakah-kandungan-dimethicone-dan-methicone-berbahaya/">Apakah Kandungan Dimethicone dan Methicone berbahaya?</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Kalian pernah nggak sih mendengar kandungan <em>dimethicone</em> atau <em>methicone</em>? Mungkin untuk sebagian orang kandungan ini terdengar asing, tapi sebenarnya kandungan ini hampir sering kita temui di beberapa jenis kosmetik atau <em>skincare</em>. Yang mungkin berada dalam kosmetik atau <em>skincare</em> yang kalian gunakan. </p>
<p>Jika kalian mencari tahu di internet, kebanyakan akan memberi informasi bahwa kandungan ini dapat membawa pengaruh buruk bagi kulitmu. Tapi jika memang kandungan ini membawa pengaruh yang buruk, kenapa banyak perusahaan kosmetik dan <em>skincare</em> yang masih menggunakan kandungan ini dalam produk mereka bahkan menggunakan kandungan ini sebagai bahan <em>primer</em> dari produk mereka. Nah, hal inilah yang membuat kandungan ini menjadi topik yang kontroversial.</p>
<p>Untuk itu, berikut beberapa informasi terkait <em>dimethicone</em> atau <em>methicone</em> yang dapat menambah pengetahuanmu mengenai aman tidaknya kandungan <em>dimethicone</em> dan <em>methicone</em> dalam kosmetik atau <em>skincare</em>mu. Yuk disimak!</p>
<h2>Mengenal Dimethicone</h2>
<p><em>Dimethicone</em> atau yang dikenal (<em>polydimethylsiloxane</em>) merupakan zat yang berbasis silikon yang berasal dari polymer. Kandungan ini umumnya sering digunakan sebagai bahan dari pelembab. Produk yang mengandung <em>dimethicone</em> dapat memberikan kelembapan pada kulit dan mengisi kerutan serta garis halus pada kulit wajah. Sehingga kandungan ini dapat membuat penampilan wajah tampak sangat halus, lembut dan terasa licin.</p>
<p>Hal inilah yang membuat kandungan <em>dimethicone</em> sering digunakan sebagai salah satu bahan <em>skincare</em> atau produk kosmetikmu. Wajah yang terasa lembut saat diraba menunjukkan produk ini tengah bekerja. Karena kelebihannya ini membuat <em>dimethicone</em> memiliki sifat penghalang oklusif pada kulit.</p>
<p><em>Dimethicone</em> dapat menjadi penghalang kulit yang efektif terhadap iritasi, sehingga dapat mencegah agar tidak berkembang menjadi dermatitis dan eksim. Sifat oklusif ini yang membuat kandungan <em>dimethicone</em> dianggap dapat memperburuk jerawat. Dengan adanya penghalang kulit yang dihasilkan oleh <em>dimethicone</em> sehingga <em>dimethicone</em> dianggap tidak hanya memerangkap uap air sehingga mencegah hilangnya uap air saja tetapi bakteri, minyak, sebum serta kotoran lain yang ada di wajah juga terperangkap.</p>
<h2>Apakah dimethicone aman untuk kulit?</h2>
<p>Terlepas dari apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kontra dengan <em>dimethicone</em>, banyak dermatolog yang justu menyarankan <em>dimethicone</em> untuk pasien berjerawat. Hal ini disebabkan, <em>dimethicone</em> sangat berguna dalam merawat kulit berminyak dan berjerawat karena tidak menghalangi pori-pori atau membuat kulit terasa berminyak.</p>
<p>Meskipun demikian, <em>dimethicone</em> juga berpotensi menyebabkan iritasi pada kulit. Dalam beberapa kasus, <em>dimethicone</em> dapat memperburuk jerawat dengan menutupi pori-pori. Selain itu <em>dimethicone</em> juga dapat menyebabkan iritasi kulit, dermatitis kontak alergi seperti ruam merah, gatal dan bersisik.</p>
<h2>Mengenal Methicone</h2>
<p>Tidak berbeda dengan <em>dimethicone</em>, <em>methicone</em> juga merupakan zat berbasis silikon yang berasal dari polymer. <em>Methicone</em> biasanya digunakan sebagai agen pengkondisi kulit dan membantu mengubah permukaan kulit pada produk kecantikan, kosmetik dan krim seperti lotion, masker dan produk anti penuaan. Permukaa kulit menjadi lebih halus dan lembut saat diraba.</p>
<p>Sama seperti <em>dimethicone</em>, <em>methicone</em> juga memiliki sifat penghalang. Sehingga dapat mencegah minyak dan keringat agar tidak melunturkan riasan wajah. <em>Methicone</em> dan semua polimer silikon memiliki berat molekul yang besar dan melapisi kulit, mencegah keringat dan bahan kimia lainnya menembus lapisan dermis. Hal ini menyebabkan <em>skincare</em> atau produk lainnya yang ingin digunakan setelah produk yang mengandung <em>methicone</em> lebih sulit untuk diserap kulit. Selain itu, <em>methicone</em> juga memunculkan kekhawatiran terhadap keringat dan racun yang tidak dapat keluar.</p>
<h2>Apakah methicone aman untuk kulit?</h2>
<p>Sama hal nya dengan <em>dimethicone</em>, <em>methicone</em> juga memiliki potensi untuk terjadinya iritasi. <em>Methicone</em> juga memiliki sifat penghalang, sehingga keringat dan racun sulit untuk keluar. Ketika kita menggunaan produk kecantikan dan kosmetik yang mengandung <em>methicone</em>, kita wajib membersihkan kulit wajah dengan maksimal, agar meminimalisir untuk terjadinya jerawat.</p>
<h2>Pendapat dan saran</h2>
<p>Dari ulasan diatas kita sudah memiliki sedikit informasi terkait dengan kandungan <em>dimethicone</em> dan <em>methicone</em> pada produk <em>skincare</em> dan kosmetik. Bagaimana mengenai manfaat dan keburukan dari kandungan tersebut. </p>
<p>Terlepas pro dan kontra kandungan ini, kalian wajib banget untuk selalu <em>care</em> dengan kulit kalian setelah penggunaan produk dengan kandungan tersebut. Apalagi jika jenis kulit kalian termasuk yang sensitif. Sekali lagi produk <em>skincare</em> atau kosmetik itu cocok-cocokkan. Belum tentu di kamu jelek di orang lain juga sama denganmu, begitu pula sebaliknya. Jadi lebih baik untuk selalu <em>aware</em> dengan produk yang kamu gunakan ya.</p>
<p>Jika kamu merasa kandungan <em>dimethicone</em> dan <em>methicone</em> dapat merusak kulit kamu, tidak ada salahnya kamu mulai mengeliminasi produk-produk <em>skincare</em> atau kosmetikmu yang mengandung kandungan tersebut. Kamu juga bisa beralih ke produk yang lebih alami. Tetapi jika kamu tidak mengalami masalah dengan kulitmu setelah menggunakan produk yang mengandung bahan tersebut, tidak ada salahnya untuk tetap menggunakannya. Karena para ahli dermatolog juga mengatakan kandungan <em>dimethione</em> dan <em>methicone</em> aman untuk digunakan.</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/09/03/apakah-kandungan-dimethicone-dan-methicone-berbahaya/">Apakah Kandungan Dimethicone dan Methicone berbahaya?</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://istapuspit.com/2020/09/03/apakah-kandungan-dimethicone-dan-methicone-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Review: Multivitamin Youvit for life membantu daya tahan tubuh</title>
		<link>http://istapuspit.com/2020/08/07/review-multivitamin-youvit-for-life-membantu-daya-tahan-tubuh/</link>
					<comments>http://istapuspit.com/2020/08/07/review-multivitamin-youvit-for-life-membantu-daya-tahan-tubuh/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[istapuspit]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2020 11:06:28 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Corona]]></category>
		<category><![CDATA[health]]></category>
		<category><![CDATA[imun]]></category>
		<category><![CDATA[multivitamin]]></category>
		<guid isPermaLink="false">http://istapuspit.com/?p=297</guid>

					<description><![CDATA[<p>Tahun 2020 sepertinya menjadi tahun dimana kita harus berlomba-lomba untuk mempertahankan daya tahan tubuh saat pandemi corona ini. Mengkonsumsi vitamin/ multivitamin menjadi daya tarik sendiri untuk bisa meningkatkan imun tubuh. Banyaknya merek vitamin/ multivitamin yang beredar membuat aku untuk lebih selektif mencari yang baik untuk di konsumsi. Multivitamin yang halal menjadi salah satu keharusan untukku. Setelah membaca-baca dan mencari tahu tentang vitamin/ multivitamin, hati ini menjatuhkan pilihan pada youvit for life multivitamin. Udah ada yang pernah dengar sebelumnya tentang youvit? Kalau belum ini saat yang tepat untuk kamu membaca review singkat mengenai youvit. Packaging Dari packaging-nya sih gemes banget. Designnya yang gemes ditambah lagi dengan warnanya yang colourful bikin eye catching. Dibagian depan kemasan sudah di paparkan informasi terkait jumlah isian, rasa dan kandungan pada multivitamin youvit ini, walaupun informasi yang disampaikan belum terperinci. Bagian kemasan belakang terpapar informasi yang lebih rinci mengenai kandungan vitamin serta nilai gizi maupun komposisinya. Packaging ini juga dikasih zipper, jadi bisa ditutup rapat kembali. Untuk isi dari youvit sendiri masih dikemas satu persatu seperti permen pada umumnya, dan lagi-lagi tetap menggemaskan dengan design-nya. Isi Permen Youvit Youvit merupakan multivitamin yang berbentuk permen gummies. Teksturnya yang kenyal ini membuat kita tidak menyadari sedang mengkonsumsi multivitamin. Rasa dari youvit juga sangat enak, seperti permen. Multivitamin youvit dengan berbagai pilihan rasa (stoberi, jeruk dan nanas).  Youvit yang aku beli ini berisi 30 gummies. Ini merupakan paket sebulan yang diluncurkan oleh youvit. Jadi sangat Hemat kan?  Untuk konsumsi youvit sehari cukup satu gummy. Setiap butir gummy mengandung 10 vitamin dan 3 mineral termasuk Zink, seperti: Vitamin A yang dapat membantu mempertahankan keutuhan lapian permukaan (mata, saluran pencernaan, saluran pernafasan dan kulit) Niasin (Vitamin B3 berperan sebagai faktor pembantu dalam reaksi pembentukan energi dan pembentukan jaringan. Asam folat (Vitamin B9) berperan dalam pertumbuhan dan pembelahan sel. Kandungan Youvit Youvit memiliki kandungan yang kaya vit A, vit B3, vit B5, vit B6, vit B7, vit B9, vit B12 , vit C, vit D3, vit E, selenium, iodium, dan zink. Komposisi Youvit Sedangkan untuk komposisi youvit sebagai berikut: sirup glukosa dan gula (mengandung pengawet sulfit), air, pengemulsi gelatin sapi (mengandung pengawet sulfit), premiks multivitamin dan mineral, pengatur keasaman, perisa sintetik (mengandung pengawet sulfit) stoberi, jeruk dan nanas, pelapis, pemanis alami glikosida steviol, pewarna kurkumin CI 75300, pewarna karmin CI 75470. Bisa dibeli dimana? Harganya berapa? Youvit bisa kamu temui di apotek terdekat dari rumahmu, atau kamu juga bisa mencarinya di superindo terdekat, atau kamu juga bisa membeli secara online. Kalau aku sih beli multivitamin youvit ini di superindo. Untuk harga multivitamin youvit ini sangat terjangkau. Dengan harga Rp 60.000 kamu sudah bisa membeli paket youvit yang sebulan ini. Youvit juga tersedia untuk paket isian yang lebih sedikit (7 gummies) dengan harga Rp 17.000. Buat kamu yang mau coba, aku kasih linknya disini Youvit Multivitamin &#160; Nah, honest review dari aku setelah mengkonsumsi ini selama sebulan, aku benar- benar merasakan manfaat dari multivitamin ini. Badan menjadi lebih segar, tidak mudah capek, jadi lebih bersemangat, dan yang pasti menjaga imun banget. Alhamdulillah badan beneran tahan menghadapi lingkungan sekitar yang lagi pada terserang sakit flu dan batuk.  Jadi aku sangat merekomendasikan kalian untuk mencoba multivitamin dari youvit ini. Selain rasanya yang enak, ditambah lagi bentukannya dari vitamin ini yang gummy abis, menjadi sensasi tersendiri saat mengkonsumsi multivitamin ini. Multivitamin ini juga bisa menjadi pilihan untuk anak-anak yang nggak doyan mengkonsumsi vitamin. Jadi tunggu apalagi? Yuk coba youvit untuk menjadi salah satu multivitamin harian kamu dan keluarga. Sekian informasi yang bisa aku sampaikan. Sehat selalu dan semoga informasi ini bermanfaat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!  🙂</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/08/07/review-multivitamin-youvit-for-life-membantu-daya-tahan-tubuh/">Review: Multivitamin Youvit for life membantu daya tahan tubuh</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure id="attachment_311" aria-describedby="caption-attachment-311" style="width: 239px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-311 size-medium" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172749_Instagram-239x300.jpg" alt="" width="239" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172749_Instagram-239x300.jpg 239w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172749_Instagram-816x1024.jpg 816w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172749_Instagram-768x964.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172749_Instagram.jpg 1080w" sizes="(max-width: 239px) 100vw, 239px" /><figcaption id="caption-attachment-311" class="wp-caption-text">Via Instagram/Sallysetia</figcaption></figure>
<p>Tahun 2020 sepertinya menjadi tahun dimana kita harus berlomba-lomba untuk mempertahankan daya tahan tubuh saat pandemi corona ini. Mengkonsumsi vitamin/ multivitamin menjadi daya tarik sendiri untuk bisa meningkatkan imun tubuh. Banyaknya merek vitamin/ multivitamin yang beredar membuat aku untuk lebih selektif mencari yang baik untuk di konsumsi. Multivitamin yang halal menjadi salah satu keharusan untukku.</p>
<p>Setelah membaca-baca dan mencari tahu tentang vitamin/ multivitamin, hati ini menjatuhkan pilihan pada youvit <em>for life</em> multivitamin. Udah ada yang pernah dengar sebelumnya tentang youvit? Kalau belum ini saat yang tepat untuk kamu membaca <em>review</em> singkat mengenai youvit.</p>
<h2>Packaging</h2>
<figure id="attachment_313" aria-describedby="caption-attachment-313" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-313 size-medium" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-1020x1024.jpg 1020w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-768x771.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram-75x75.jpg 75w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-172836_Instagram.jpg 1079w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-313" class="wp-caption-text">Via Instagram/youvitforlife</figcaption></figure>
<p>Dari <em>packaging</em>-nya sih gemes banget. <em>Design</em>nya yang gemes ditambah lagi dengan warnanya yang <em>colourful</em> bikin <em>eye catching</em>. Dibagian depan kemasan sudah di paparkan informasi terkait jumlah isian, rasa dan kandungan pada multivitamin youvit ini, walaupun informasi yang disampaikan belum terperinci. Bagian kemasan belakang terpapar informasi yang lebih rinci mengenai kandungan vitamin serta nilai gizi maupun komposisinya. <em>Packaging</em> ini juga dikasih <em>zipper</em>, jadi bisa ditutup rapat kembali. Untuk isi dari youvit sendiri masih dikemas satu persatu seperti permen pada umumnya, dan lagi-lagi tetap menggemaskan dengan <em>design</em>-nya.</p>
<h2>Isi Permen Youvit</h2>
<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-314 aligncenter" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-300x300.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-1024x1024.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-768x768.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-1536x1536.jpg 1536w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-2048x2048.jpg 2048w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-1140x1140.jpg 1140w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/20200807_130437-75x75.jpg 75w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /></p>
<p>Youvit merupakan multivitamin yang berbentuk permen <em>gummies. </em>Teksturnya yang kenyal ini membuat kita tidak menyadari sedang mengkonsumsi multivitamin. Rasa dari youvit juga sangat enak, seperti permen. Multivitamin youvit dengan berbagai pilihan rasa (stoberi, jeruk dan nanas).  Youvit yang aku beli ini berisi 30 <em>gummies</em>. Ini merupakan paket sebulan yang diluncurkan oleh youvit. Jadi sangat Hemat kan? </p>
<figure id="attachment_317" aria-describedby="caption-attachment-317" style="width: 300px" class="wp-caption aligncenter"><img decoding="async" class="wp-image-317 size-medium" src="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-300x297.jpg" alt="" width="300" height="297" srcset="https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-300x297.jpg 300w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-1024x1015.jpg 1024w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-150x150.jpg 150w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-768x762.jpg 768w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram-75x75.jpg 75w, https://istapuspit.com/wp-content/uploads/2020/08/Screenshot_20200807-173241_Instagram.jpg 1079w" sizes="(max-width: 300px) 100vw, 300px" /><figcaption id="caption-attachment-317" class="wp-caption-text">Via Instagram/youvitforlife</figcaption></figure>
<p>Untuk konsumsi youvit sehari cukup satu <em>gummy. </em>Setiap butir <em>gummy</em> mengandung 10 vitamin dan 3 mineral termasuk Zink, seperti:</p>
<ul>
<li>Vitamin A yang dapat membantu mempertahankan keutuhan lapian permukaan (mata, saluran pencernaan, saluran pernafasan dan kulit)</li>
<li>Niasin (Vitamin B3 berperan sebagai faktor pembantu dalam reaksi pembentukan energi dan pembentukan jaringan.</li>
<li>Asam folat (Vitamin B9) berperan dalam pertumbuhan dan pembelahan sel.</li>
</ul>
<h2>Kandungan Youvit</h2>
<p>Youvit memiliki kandungan yang kaya vit A, vit B3, vit B5, vit B6, vit B7, vit B9, vit B12 , vit C, vit D3, vit E, selenium, iodium, dan zink.</p>
<h2>Komposisi Youvit</h2>
<p>Sedangkan untuk komposisi youvit sebagai berikut: sirup glukosa dan gula (mengandung pengawet sulfit), air, pengemulsi gelatin sapi (mengandung pengawet sulfit), premiks multivitamin dan mineral, pengatur keasaman, perisa sintetik (mengandung pengawet sulfit) stoberi, jeruk dan nanas, pelapis, pemanis alami glikosida steviol, pewarna kurkumin CI 75300, pewarna karmin CI 75470.</p>
<h2>Bisa dibeli dimana? Harganya berapa?</h2>
<p>Youvit bisa kamu temui di apotek terdekat dari rumahmu, atau kamu juga bisa mencarinya di superindo terdekat, atau kamu juga bisa membeli secara online. Kalau aku sih beli multivitamin youvit ini di superindo. Untuk harga multivitamin youvit ini sangat terjangkau. Dengan harga Rp 60.000 kamu sudah bisa membeli paket youvit yang sebulan ini. Youvit juga tersedia untuk paket isian yang lebih sedikit (7 <em>gummies</em>) dengan harga Rp 17.000. Buat kamu yang mau coba, aku kasih <em>link</em>nya disini <a href="https://shope.ee/8p975nDiOu">Youvit Multivitamin</a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Nah, <em>honest review</em> dari aku setelah mengkonsumsi ini selama sebulan, aku benar- benar merasakan manfaat dari multivitamin ini. Badan menjadi lebih segar, tidak mudah capek, jadi lebih bersemangat, dan yang pasti menjaga imun banget. Alhamdulillah badan beneran tahan menghadapi lingkungan sekitar yang lagi pada terserang sakit flu dan batuk. </p>
<p>Jadi aku sangat merekomendasikan kalian untuk mencoba multivitamin dari youvit ini. Selain rasanya yang enak, ditambah lagi bentukannya dari vitamin ini yang <em>gummy</em> abis, menjadi sensasi tersendiri saat mengkonsumsi multivitamin ini. Multivitamin ini juga bisa menjadi pilihan untuk anak-anak yang nggak doyan mengkonsumsi vitamin. Jadi tunggu apalagi? Yuk coba youvit untuk menjadi salah satu multivitamin harian kamu dan keluarga.</p>
<p>Sekian informasi yang bisa aku sampaikan. Sehat selalu dan semoga informasi ini bermanfaat. Sampai jumpa di postingan selanjutnya!  🙂</p>
<p>The post <a href="http://istapuspit.com/2020/08/07/review-multivitamin-youvit-for-life-membantu-daya-tahan-tubuh/">Review: Multivitamin Youvit for life membantu daya tahan tubuh</a> appeared first on <a href="https://istapuspit.com">istapuspit.com</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>http://istapuspit.com/2020/08/07/review-multivitamin-youvit-for-life-membantu-daya-tahan-tubuh/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>

<!--
Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: https://www.boldgrid.com/w3-total-cache/?utm_source=w3tc&utm_medium=footer_comment&utm_campaign=free_plugin

Page Caching using Disk: Enhanced 

Served from: istapuspit.com @ 2026-05-15 19:08:46 by W3 Total Cache
-->